Ilmu Manajemen untuk Transformasi Organisasi dan Peradaban
Berbasis Riset
Berlandaskan Nilai Islam
Menuju Keunggulan Global
Mencetak Doktor Manajemen Visioner

Unggul dalam Riset, Berintegritas dalam Kepemimpinan, Berkemajuan untuk Peradaban"

Tentang PRODI Doktor Manajemen

Langganan EBSCO, UM Palembang Perkuat Budaya Riset Dosen Manajemen

Akses terhadap jurnal ilmiah berkualitas bukan sekadar persoalan memiliki fasilitas. Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut benar-benar digunakan untuk membaca, mengkritisi penelitian terdahulu, menemukan research gap, melahirkan penelitian baru, hingga menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas.

Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan EBSCO yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Palembang pada Jumat, 4 September 2026, di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut mempertemukan para dosen Manajemen dari tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni Program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) Manajemen.

Pertemuan lintas jenjang ini menjadi menarik karena pemanfaatan sumber literatur ilmiah sesungguhnya merupakan kebutuhan bersama.

Mahasiswa S1 memerlukannya untuk membangun kebiasaan membaca sumber ilmiah yang kredibel.

Pada jenjang magister, literatur menjadi dasar untuk memperkuat analisis dan penelitian.

Sementara pada jenjang doktoral, kemampuan menelusuri perkembangan ilmu mutakhir menjadi kebutuhan mendasar dalam menemukan kebaruan penelitian.

Narasumber kegiatan adalah Erik Junikon, Regional Sales Manager EBSCO International, yang memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan database EBSCO, khususnya sumber literatur yang relevan dengan bidang manajemen dan bisnis.

Moderator dan pembawa acara pada kegiatan ini Anggrelia Afrida, S.E., M.Si., dosen Prodi Akuntansi FEB UM Palembang.

Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., mewakili Rektor menyampaikan arahannya, ia menekankan pentingnya menjadikan fasilitas jurnal yang telah tersedia sebagai bagian nyata dari proses pembelajaran dan penelitian.

“Fasilitas jurnal melalui EBSCO ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh dosen dan mahasiswa, baik untuk mendukung proses pembelajaran, penelaahan artikel ilmiah, penyusunan kajian, maupun pengembangan riset. Mahasiswa dapat diarahkan membaca dan menganalisis beberapa jurnal, kemudian menyusun critical review untuk menemukan research gap yang dapat dikembangkan menjadi penelitian. Melalui dukungan sumber referensi yang semakin mudah diakses, proses pembelajaran berbasis OBE, penelitian, publikasi, serta pengembangan karier akademik dosen diharapkan semakin kuat.” Ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena ketersediaan database akademik tidak akan banyak berarti apabila berhenti sebatas pada kepemilikan akun atau fasilitas berlangganan.

Jurnal harus dibaca. Hasil penelitian perlu dibandingkan. Metodologi perlu dikritisi. Temuan-temuan terdahulu perlu dipetakan. Dari proses itulah pertanyaan penelitian baru dapat muncul.

Pada akhirnya, literatur bukan sekadar menjadi kumpulan referensi dalam daftar pustaka, tetapi menjadi peta yang membantu peneliti menentukan ke mana penelitian berikutnya harus bergerak.

Pemanfaatan EBSCO juga memiliki relevansi dengan implementasi Outcome-Based Education (OBE).

Dalam pembelajaran, mahasiswa dapat diberikan tugas yang tidak hanya meminta mereka menghafal konsep, tetapi mengakses beberapa artikel ilmiah, membandingkan temuan, melakukan critical review, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, kemudian mengembangkan gagasan penelitian berdasarkan literatur tersebut.

Model seperti ini dapat menggeser proses pembelajaran dari sekadar menerima informasi menjadi belajar menemukan, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan.

Lebih jauh lagi, kebiasaan tersebut dapat dibangun secara berjenjang.

Pada S1, mahasiswa mulai dibiasakan mengenali artikel ilmiah berkualitas.

Pada S2, kemampuan tersebut diperkuat melalui analisis dan sintesis berbagai penelitian.

Sedangkan pada S3, mahasiswa dituntut mampu melihat posisi penelitian mereka di antara perkembangan keilmuan global serta menemukan kontribusi yang benar-benar memiliki kebaruan.

Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Pascasarjana UM Palembang Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., Ketua Program Studi Doktor Manajemen Dr. Tobari, S.E., M.Si., dan Sekretaris Program Studi Doktor Manajemen Prof. Dr. Ir. Faizal Daud Badaruddin, M.S.

Hadir pula Ketua Program Studi Magister Manajemen Dr. Zaleha Trihandayani, S.E., M.Si. dan Sekretaris Program Studi Magister Manajemen Dr. Eni Cahyani, S.E., M.Si.

Dari Program Studi S1 Manajemen hadir Dr. Mister Candera, S.Pd., M.Si., dan Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Dr. Dinarossi Utami, S.E., M.Si., serta para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Turut mengikuti kegiatan tersebut antara lain Prof. Dr. Fatimah, S.E., M.Si., Dr. Sunardi, S.E., M.Si., Dr. Diah Isnaini Asiati, S.E., M.M., dosen S3 Manajemen dan para dosen lainnya.

Direktur Pascasarjana UM Palembang, Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., memandang pemanfaatan database akademik seperti EBSCO penting untuk memperkuat budaya akademik universitas.

Pada kesempatan tersebut Dr. Mukhtarudin menyampaikan “Kehadiran EBSCO bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi harus menjadi pintu masuk untuk membangun budaya akademik yang lebih kuat. Melalui keterlibatan dosen S1, S2, dan S3 Manajemen, akses terhadap referensi bermutu diharapkan mampu melahirkan pembelajaran yang lebih kaya, penelitian yang lebih tajam, serta publikasi ilmiah yang semakin berkualitas dan berdampak.” Jelasnya.

“Terima kasih kepada Bapak Rektor UM Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., yang telah membuka fasilitasi jurnal-jurnal internasional dalam naungan EBSCO dalam bidang ilmu sosial, ekonomi dan manajemen. Harapan kami di tahun mendatang akan difasilitasi juga jurnal-jurnal internasional bidang teknik, hukum, kependidikan, kedokteran dan teknologi pangan dan pertanian, serta keagamaan.” Ungkapnya.

Kehadiran dosen dari S1, S2, hingga S3 Manajemen menjadi momentum untuk membangun kesinambungan akademik.

Akses terhadap sumber referensi yang kredibel dan mutakhir diharapkan tidak hanya memperkaya pembelajaran, tetapi juga mempertajam kualitas penelitian serta meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah.

Dalam pemaparannya, Erik Junikon menjelaskan berbagai koleksi yang tersedia melalui EBSCO, khususnya database bidang bisnis dan manajemen.

Database tersebut memuat beragam sumber seperti jurnal akademik, majalah bisnis, serta publikasi yang relevan dengan kajian manajemen, pemasaran, akuntansi, sistem informasi, hingga bidang terkait lainnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sebagian publikasi tersedia dalam bentuk full text, sementara sebagian lainnya memiliki ketentuan tertentu seperti masa embargo.

Selain itu, koleksi database juga mencakup publikasi yang telah terindeks pada basis data bibliografis internasional.

Penjelasan mengenai sistem agregator menjadi penting agar pengguna memahami bahwa keberadaan sebuah jurnal dalam database tidak selalu berarti seluruh edisi terbaru otomatis tersedia dalam bentuk full text.

Ada mekanisme lisensi, kerja sama dengan penerbit, dan masa embargo yang memengaruhi akses terhadap sebuah publikasi.

Namun bagi dosen dan mahasiswa, pesan terpentingnya sederhana: sumber literatur berkualitas kini telah tersedia dan perlu dimanfaatkan secara maksimal.

Berlangganan database ilmiah membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:

“Apakah universitas memiliki akses EBSCO?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Berapa banyak dosen dan mahasiswa yang menggunakannya untuk menghasilkan pembelajaran, penelitian, dan publikasi yang lebih baik?”

Di sinilah pelatihan seperti yang dilaksanakan UM Palembang memiliki arti.

Database akademik baru akan bernilai ketika dosen menjadikannya sumber utama dalam memperbarui bahan ajar, mahasiswa menggunakannya untuk membaca perkembangan penelitian mutakhir, peneliti memanfaatkannya untuk membangun state of the art, dan karya ilmiah yang dihasilkan semakin kaya oleh referensi berkualitas.

Bagi Program Studi Manajemen dari S1 hingga S3, akses EBSCO juga membuka peluang membangun sebuah ekosistem riset yang saling terhubung.

Satu artikel dapat melahirkan pertanyaan. Beberapa artikel dapat memperlihatkan pola.

Puluhan artikel dapat memperlihatkan kesenjangan penelitian, dan dari kesenjangan itulah sebuah penelitian baru dapat dimulai.

Teknologi telah menyediakan pintunya. Database telah menyediakan sumbernya.

Tugas dunia akademik selanjutnya adalah membaca, berpikir kritis, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang memberi manfaat.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah perguruan tinggi bukan diukur dari seberapa banyak database yang dilanggan, melainkan dari seberapa jauh ilmu yang tersedia di dalamnya berhasil diubah menjadi pengetahuan baru dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Semoga.

 

PKM Internasional Dilaksanakan di Desa Pejambon Provinsi Lampung

Teknologi akan memiliki makna ketika tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi mampu hadir di tengah masyarakat dan membantu menyelesaikan persoalan nyata.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang dilaksanakan di Desa Pejambon, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan bertajuk International Community Service Program tersebut merupakan kolaborasi STIAB Jinarakkhitta Lampung dan Tongmyong University, South Korea, dengan melibatkan berbagai unsur akademisi, mahasiswa, pemerintah desa, pelaku UMKM, pemuda, dan masyarakat.

Kegiatan PKM Internasional ini menjadi lanjutan dari seminar internasional yang dilaksanakan pada pagi hari. Jika seminar membahas gagasan besar mengenai optimalisasi Artificial Intelligence (AI) untuk inklusi keuangan digital dan kewirausahaan, maka kegiatan di Desa Pejambon menjadi ruang untuk membawa gagasan tersebut turun langsung ke masyarakat.

Dengan kata lain, dari seminar menuju aksi, dari gagasan menuju pemberdayaan.

Kegiatan ini semakin bermakna karena diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang dan negara. Selain akademisi dan mahasiswa dari Indonesia serta Korea Selatan, kegiatan juga melibatkan mahasiswa internasional dari Gambia dan Filipina.

Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri. Desa Pejambon tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pengabdian, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya, pengetahuan, dan pengalaman internasional.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Doktor Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak seminar internasional pada pagi hari hingga PKM Internasional di Desa Pejambon.

Kehadiran Dr. Tobari menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan kolaborasi akademik internasional yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga diarahkan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Turut hadir pula dari Universitas Bina Darma, Dr. Dewi Sartika, S.E., M.Si., Ak. Kehadiran para akademisi dari berbagai perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.

Salah satu bagian paling menarik dari kegiatan adalah penyampaian materi yang bersifat praktis.

Prof. Ari Warokka, Ph.D., dari Tongmyong University, tidak hanya menjelaskan AI dalam konsep, tetapi mengajak peserta mempraktikkannya secara langsung menggunakan telepon genggam.

Peserta diajarkan bagaimana membuat foto produk yang lebih menarik, menghilangkan latar belakang foto, memilih latar yang sesuai, serta membuat desain yang dapat digunakan untuk kebutuhan promosi.

Peserta juga diperkenalkan dengan Canva untuk membuat label dan stiker kemasan. Dengan cara tersebut, pelaku UMKM dapat belajar menjadi lebih mandiri dalam menyiapkan identitas visual produknya tanpa harus selalu bergantung kepada jasa desain.

Bagi UMKM desa, kemampuan tersebut bukan sekadar persoalan estetika.

Kemasan, foto, label, dan cara menyampaikan informasi merupakan bagian dari bagaimana sebuah produk memperkenalkan dirinya kepada konsumen.

Produk yang baik membutuhkan komunikasi yang baik.

Di sinilah AI dan teknologi digital dapat menjadi alat bantu yang murah, mudah diakses, dan relatif sederhana.

Prof. Ari kemudian mengajarkan bagaimana AI dapat digunakan untuk mencari ide promosi.

Peserta diajak membuat prompt sederhana untuk meminta AI menyusun caption, pesan promosi WhatsApp, materi broadcast, hingga gagasan konten media sosial.

Rumus yang diperkenalkan juga sederhana: tentukan peran AI, jelaskan produk secara detail, kemudian tentukan target atau media yang dituju.

Misalnya, pelaku UMKM dapat meminta AI bertindak sebagai ahli pemasaran UMKM, kemudian menjelaskan produk yang dijual, keunggulannya, sasaran konsumen, dan media yang digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, AI dapat menjadi semacam teman berdiskusi atau konsultan pemasaran digital bagi pelaku usaha.

“AI bukan hanya untuk orang yang ahli teknologi. Dengan telepon genggam yang ada di tangan kita, AI dapat menjadi alat bantu untuk membuat produk lebih menarik, menyusun kata-kata promosi, dan membantu masyarakat memasarkan produknya,” jelas Prof. Ari.

Pesan ini menjadi penting karena teknologi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan hanya dapat digunakan oleh orang yang memiliki kemampuan khusus.

Padahal, teknologi akan semakin bermanfaat ketika dibuat sederhana dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Hal penting lain yang diperkenalkan adalah penggunaan teknologi untuk pencatatan keuangan usaha.

Pelaku UMKM diajak memahami pentingnya mencatat transaksi, pemasukan, pengeluaran, piutang, dan pembayaran secara lebih teratur melalui aplikasi digital.

Selama ini, salah satu tantangan usaha kecil adalah pencatatan keuangan yang belum tertib.

Padahal, pencatatan merupakan fondasi penting untuk mengetahui kondisi usaha.

Tanpa catatan, pelaku usaha akan sulit mengetahui apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan, berapa jumlah piutang, bagaimana arus kas, dan berapa kemampuan usahanya berkembang.

Dengan pencatatan digital, UMKM didorong untuk mulai membangun kebiasaan usaha yang lebih profesional.

Lebih jauh, keteraturan pencatatan juga dapat membantu meningkatkan kesiapan UMKM ketika ingin mengakses pembiayaan formal.

Dengan demikian, digitalisasi UMKM bukan hanya tentang membuat promosi di media sosial, tetapi juga membangun usaha yang tertib, sehat, transparan, dan memiliki data.

Tema besar seminar internasional tentang “Optimizing Artificial Intelligence for Digital Financial Inclusion and Digital Entrepreneurship” memperoleh makna yang lebih konkret di Desa Pejambon.

Inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan membuka akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Masyarakat juga perlu memiliki literasi dan kemampuan untuk menggunakan layanan tersebut secara bijak.

Mencatat transaksi, memahami arus kas, memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, dan mengelola pembayaran merupakan bagian dari proses membangun UMKM yang lebih siap memasuki ekosistem ekonomi digital.

AI kemudian hadir sebagai instrumen pendukung.

Teknologi tidak mengambil alih peran manusia, tetapi membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih tertib, dan lebih kreatif.

Kepala Desa Pejambon, Edi Wartoyo, S.Pd.I., menyambut baik kegiatan tersebut.

Baginya, kehadiran perguruan tinggi dan mahasiswa internasional merupakan kehormatan sekaligus kesempatan belajar bagi masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan mendukung sepenuhnya program ini. Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia yang kami miliki, kami membutuhkan pembinaan agar sumber daya manusia dan potensi sumber daya alam di desa dapat terus dikembangkan,” ungkap Edi.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membantu masyarakat menggali potensi UMKM, pertanian, dan sektor ekonomi lainnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mari kita manfaatkan momentum ini untuk belajar dan maju bersama. Kami ingin Desa Pejambon menjadi desa yang terus berkembang, dengan masyarakat yang rukun, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi,” tegasnya.

Ada pesan lain yang tidak kalah penting dari kegiatan tersebut.

Desa Pejambon bukan hanya memiliki potensi ekonomi, tetapi juga memiliki kekuatan sosial berupa kerukunan masyarakat lintas agama.

Edi menjelaskan bahwa masyarakat desa hidup berdampingan dengan semangat gotong royong tanpa menjadikan perbedaan agama dan suku sebagai penghalang.

“Kami tidak pernah membahas perbedaan agama maupun suku. Yang kami pikirkan adalah bagaimana hidup berdampingan, rukun, dan bersama-sama mengabdi kepada Tuhan,” tuturnya.

Nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan semangat kolaborasi internasional.

Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai kemanusiaan, toleransi, gotong royong, dan kepercayaan.

Mewakili Ketua STIAB Jinarakkhitta Lampung, Dr. Susanto, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh pihak terhadap kegiatan tersebut.

Menurutnya, kolaborasi internasional tidak boleh berhenti pada pertemuan akademik.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan memberikan pengetahuan serta wawasan internasional kepada kita semua. Terima kasih juga kepada Pemerintah Desa Pejambon yang telah menerima dan mendukung kegiatan ini. Harapan kami, mahasiswa dan masyarakat dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kegiatan ini, memperoleh pengetahuan baru, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan serta pengembangan potensi masyarakat,” ujarnya.

Pesan tersebut mempertegas bahwa keberhasilan sebuah kegiatan internasional bukan hanya dilihat dari siapa yang hadir, tetapi dari apa yang dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh masyarakat.

Salah satu gagasan menarik dari kegiatan ini adalah keberlanjutan pendampingan.

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai peserta.

Mereka dapat mengambil peran sebagai pendamping UMKM.

Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung dari masyarakat, sementara pelaku UMKM mendapatkan pendampingan yang lebih dekat.

Perguruan tinggi pun memperoleh ruang untuk menguji pengetahuan dan inovasi dalam konteks kehidupan nyata.

Model seperti ini dapat dikembangkan menjadi program pendampingan jangka panjang.

Misalnya, Desa Pejambon dapat menjadi laboratorium pembelajaran digital UMKM selama satu tahun dengan tahapan pemetaan kebutuhan, pelatihan, pendampingan, pengembangan produk, penguatan pemasaran, pencatatan keuangan, pengukuran dampak, dan evaluasi.

Jika berhasil, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi model yang dapat direplikasi di desa lain.

Kolaborasi dengan Tongmyong University Korea Selatan memberikan perspektif internasional.

Namun, pengalaman internasional tidak harus diterapkan secara mentah.

Teknologi perlu dilokalkan.

Apa yang cocok untuk perusahaan besar belum tentu sesuai dengan kebutuhan UMKM desa.

Karena itu, AI harus diperkenalkan dengan bahasa yang mudah dipahami, aplikasi yang mudah digunakan, biaya yang terjangkau, serta fokus pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Inilah makna sesungguhnya dari kolaborasi internasional: mempertemukan pengetahuan global dengan kebutuhan lokal.

Di tengah antusiasme terhadap AI, peserta juga perlu memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab.

AI tidak boleh digunakan untuk membuat informasi palsu, menyesatkan konsumen, mengambil karya orang lain tanpa izin, atau mengabaikan keamanan data.

Kejujuran dalam promosi, perlindungan data pelanggan, penghormatan terhadap hak cipta, keamanan transaksi, dan kontrol manusia harus tetap menjadi bagian dari praktik digital.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya melahirkan UMKM yang lebih modern, tetapi juga UMKM yang memiliki integritas.

Kegiatan PKM Internasional di Desa Pejambon menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat pembelajaran.

Pendidikan memberikan pengetahuan. Penelitian menghasilkan inovasi. Pengabdian memastikan pengetahuan dan inovasi memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketiganya bertemu dalam kegiatan ini.

Mahasiswa belajar dari masyarakat.

Dosen menemukan persoalan nyata untuk dikaji.

Masyarakat mendapatkan pengetahuan dan pendampingan.

Mitra internasional memberikan perspektif global.

Sementara perguruan tinggi membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

Inilah wajah kampus yang hadir dan tumbuh bersama masyarakat.

Harapan terbesar dari kegiatan ini bukan sekadar agar pelaku UMKM Desa Pejambon dapat menggunakan beberapa aplikasi AI.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mengubah cara pandang masyarakat terhadap teknologi.

Bahwa AI bukan hanya milik perusahaan besar.

Bahwa teknologi tidak harus ditakuti.

Bahwa masyarakat desa pun dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengelola keuangan, dan membangun usaha yang lebih kompetitif.

Jika pendampingan dilakukan secara konsisten, Desa Pejambon dapat menjadi contoh bahwa transformasi digital dapat dimulai dari komunitas kecil.

Dari satu desa, lahir pengalaman.

Dari pengalaman, lahir model.

Dari model, terbuka peluang untuk direplikasi ke desa lainnya.

Pada akhirnya, PKM Internasional STIAB Jinarakkhitta Lampung dan Tongmyong University memberikan sebuah pelajaran penting: teknologi yang hebat bukanlah teknologi yang hanya mampu melakukan hal-hal luar biasa, melainkan teknologi yang mampu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

AI akan memiliki makna ketika membantu pelaku UMKM menemukan pasar, menyusun promosi, mengelola keuangan, meningkatkan produktivitas, membuka peluang pembiayaan, dan membangun masa depan usaha yang lebih baik.

Dari Desa Pejambon, pesan itu terasa nyata.

Kolaborasi internasional tidak harus selalu dimulai dari gedung-gedung besar. Ia dapat tumbuh dari desa, dari UMKM, dari mahasiswa, dari dosen, dan dari kepedulian untuk menghadirkan teknologi yang benar-benar bermanfaat.

Dari teknologi menuju pemberdayaan.

Dari kolaborasi global menuju dampak lokal.

Dari Desa Pejambon, semangat digitalisasi UMKM dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas. Semoga.

Kolaborasi Global STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University Dorong UMKM

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat dan mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, pertanyaan yang semakin penting bukan lagi tentang seberapa canggih AI dapat dikembangkan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu ruh dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan secara hybrid oleh STIAB Jinarakkhitta Lampung bersama Tongmyong University, South Korea, Selasa, 18 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Optimizing Artificial Intelligence for Digital Financial Inclusion and Digital Entrepreneurship“, seminar ini menjadi ruang akademik untuk membahas peluang AI dalam memperluas inklusi keuangan digital sekaligus mendorong lahirnya kewirausahaan digital yang inovatif, produktif, dan bertanggung jawab.

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Ari Warokka, Ph.D., dari Global Business Department, Busan International College (BIC), Tongmyong University, South Korea, sebagai speaker.

Kegiatan diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, peneliti, mitra akademik, serta peserta dari berbagai daerah. Kehadiran mahasiswa internasional dari Gambia dan Filipina turut memberikan warna global dalam forum tersebut.

Seminar juga melibatkan berbagai institusi sebagai Co-Host, yaitu IFMA (International Financial Management Association), Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta, STIB Kertarajasa Malang, STAB Maitreyawira Pekanbaru, STMIK Dharmapala Riau, STAB Bodhi Dharma Medan, dan STAH Lampung.

Keterlibatan berbagai perguruan tinggi dan organisasi tersebut memperlihatkan bahwa isu AI, inklusi keuangan, dan kewirausahaan digital bukan lagi menjadi perhatian satu institusi, tetapi merupakan agenda bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Dalam seminar tersebut, Prof. Ari Warokka, Ph.D. menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam perspektif yang lebih luas. AI bukan sekadar teknologi untuk meningkatkan efisiensi, mengolah informasi, mendukung pengambilan keputusan, dan menciptakan inovasi, tetapi harus diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia.

“AI tidak bisa lagi ditinggalkan. Yang terpenting bukan sekadar bagaimana kita menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi ini dimanfaatkan secara bijak untuk menciptakan nilai, memperluas akses, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Ari.

Dalam konteks inklusi keuangan digital, AI dapat dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah, sederhana, terpercaya, dan sesuai kebutuhan. Masyarakat pedesaan, pelaku usaha informal, dan UMKM menjadi kelompok penting yang perlu merasakan manfaat perkembangan teknologi tersebut.

Dalam kewirausahaan digital, AI juga dapat membantu mengembangkan ide, membuat materi promosi, menganalisis pasar, meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, hingga menciptakan inovasi bisnis.

Namun, Prof. Ari menekankan bahwa pemanfaatan AI harus tetap berlandaskan etika, keamanan data, penghormatan terhadap hak cipta, dan tanggung jawab. Teknologi harus menjadi alat yang dikendalikan manusia untuk menciptakan kemanfaatan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya mewakili Kepala STIAB Jinarakkhita Lampung, Ketua Panitia Dr. Hendri Ardianto, M.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya seminar internasional tersebut. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin cepat.

“Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi inovator, problem solver, dan creator yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Hendri.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan etis. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu menciptakan inovasi dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ini adalah adanya penandatanganan IA (Implementation Agreement) sebagai bentuk implementasi kerja sama akademik.

Pada momentum tersebut, dilakukan penandatanganan IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kerja sama tersebut menjadi langkah konkret untuk menerjemahkan hubungan antarlembaga ke dalam kegiatan yang lebih nyata, khususnya dalam pengembangan akademik, penelitian, publikasi, dan kegiatan lain yang dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Penandatanganan IA juga dilakukan antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma (UBD).

Dengan demikian, seminar internasional tidak hanya menjadi forum untuk mendengarkan pemaparan dan bertukar gagasan, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk membangun fondasi kerja sama yang dapat dilanjutkan dalam berbagai program akademik.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang, serta Dr. Dewi Sartika, S.E., M.Si., Ak., Ketua Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma.

Kehadiran kedua pimpinan program studi tersebut sekaligus memperlihatkan adanya semangat untuk membangun jejaring akademik yang lebih luas.

Penandatanganan IA (Implementation Agreement) memiliki makna penting karena kerja sama perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada dokumen formal.

Kerja sama akan memiliki nilai ketika diterjemahkan menjadi kegiatan nyata.

Mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar dan konferensi, pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dari kegiatan hari itu: kolaborasi bukan sekadar tentang siapa yang menandatangani dokumen, tetapi tentang apa yang dapat dilakukan bersama setelah dokumen tersebut ditandatangani.

Dalam konteks inilah IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Prodi S3 Manajemen UM Palembang serta Prodi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma memiliki arti strategis.

Kolaborasi dapat mempertemukan keunggulan masing-masing institusi sehingga menghasilkan kegiatan yang lebih luas dan berdampak.

Kerja sama dengan Tongmyong University, South Korea, memberikan dimensi internasional dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran Prof. Ari Warokka, Ph.D., sebagai speaker membuka kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan wawasan dari perspektif internasional, terutama mengenai perkembangan bisnis global, teknologi, dan kewirausahaan.

ementara kehadiran mahasiswa dari Gambia dan Filipina memperlihatkan bahwa ruang akademik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif lintas negara.

Inilah kekuatan pendidikan tinggi pada era global.

Kampus tidak lagi dapat berjalan sendiri. Perguruan tinggi perlu membangun jejaring, membuka ruang dialog, dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri.

Seminar internasional ini pada akhirnya menyampaikan sebuah pesan sederhana tetapi penting.

AI tidak seharusnya hanya dipandang sebagai teknologi yang akan menggantikan pekerjaan manusia.

AI justru harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia.

Teknologi dapat membantu masyarakat mengakses informasi, membantu UMKM mengembangkan usaha, membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas, membantu peneliti menemukan pengetahuan baru, dan membantu perguruan tinggi memperluas dampak pengabdiannya.

Oleh karena itu, masa depan AI sangat ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

Apabila AI dikembangkan dengan pengetahuan, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, teknologi tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Seminar Internasional STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University menjadi salah satu langkah menuju arah tersebut.

Lebih dari sekadar forum akademik, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana gagasan, jejaring, dan kerja sama dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk membangun masa depan pendidikan dan masyarakat yang lebih baik.

Saat ketika seminar berakhir, sesungguhnya pekerjaan baru dimulai: mengubah gagasan menjadi kolaborasi, kolaborasi menjadi implementasi, dan implementasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Semoga.