Ilmu Manajemen untuk Transformasi Organisasi dan Peradaban
Berbasis Riset
Berlandaskan Nilai Islam
Menuju Keunggulan Global
Mencetak Doktor Manajemen Visioner

Unggul dalam Riset, Berintegritas dalam Kepemimpinan, Berkemajuan untuk Peradaban"

Tentang PRODI Doktor Manajemen

Ketika Ilmu dan Dakwah Membuka Harapan dari Balik Jeruji

Sebuah tanda tangan kadang hanya terlihat sebagai bagian dari urusan administrasi. Namun, ketika tanda tangan itu mempertemukan perguruan tinggi, organisasi dakwah, dan lembaga pemasyarakatan dalam satu ikhtiar kemanusiaan, maknanya menjadi jauh lebih besar.

Harapan itulah yang terasa dalam penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 4 Agustus 2026, di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang.

MoU ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H., dan Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement atau MoA yang melibatkan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah Dr. Idmar Wijaya, M.Hum., para Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Selatan, serta para Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Sumatera Selatan.

Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. H. M. Idris, S.E., M.Si., Wakil Rektor I Dr. Saleh Hidayat, M.Si., Wakil Rektor III Dr. Eko Ariyanto, S.T., M.Chem. Eng, Dekan Fakultas Agama Islam Dr. Purmansyah Ariadi, S.Ag., M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Abdul Hamid Usman, S.H., M.Hum., para ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, pengurus Muhammadiyah, serta jajaran pemasyarakatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama ini bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan awal dari gerakan bersama untuk menghadirkan pembinaan yang lebih humanis, terarah, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh membatasi perannya hanya di ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan.

 

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung semangat unggul dan Islami, Universitas Muhammadiyah Palembang memiliki tanggung jawab moral untuk mengimplementasikan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian tersebut harus bersifat inklusif. Artinya, perguruan tinggi harus hadir untuk seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

Warga binaan tetap merupakan bagian dari masyarakat. Mereka membutuhkan perhatian, pendidikan, pendampingan, keterampilan, serta ruang untuk memperbaiki diri.

Oleh karena itu, kerja sama ini tidak hanya diarahkan pada pembinaan keagamaan. Ruang kolaborasi juga terbuka melalui penyuluhan hukum, pendidikan keterampilan, penelitian bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan lingkungan, kewirausahaan, serta berbagai program pemberdayaan lainnya.

Fakultas Agama Islam dapat berkontribusi melalui pembinaan rohani, penguatan akhlak, pembelajaran Al-Qur’an, serta pendampingan ibadah.

Fakultas Hukum dapat berperan dalam pendidikan kesadaran hukum, pemahaman hak dan kewajiban warga binaan, serta berbagai bentuk penyuluhan hukum.

Program Pascasarjana dan program studi lainnya juga dapat mengembangkan penelitian dan pengabdian dalam bidang manajemen, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, dan reintegrasi sosial.

Dalam kerangka inilah ilmu pengetahuan menemukan maknanya. Ilmu tidak hanya ditulis dalam jurnal atau dibicarakan dalam seminar, tetapi hadir menyelesaikan persoalan nyata yang dialami manusia.

Program Pascasarjana dan program studi lainnya juga dapat mengembangkan penelitian dan pengabdian dalam bidang manajemen, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, dan reintegrasi sosial.

Dalam kerangka inilah ilmu pengetahuan menemukan maknanya. Ilmu tidak hanya ditulis dalam jurnal atau dibicarakan dalam seminar, tetapi hadir menyelesaikan persoalan nyata yang dialami manusia.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H., menempatkan kerja sama ini sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan dan menjangkau semua lapisan masyarakat.

Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan Islam yang bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan. Karena itu, kehadiran Muhammadiyah di lingkungan pemasyarakatan bukanlah sesuatu yang terpisah dari misi gerakan.

Melalui Lembaga Dakwah Komunitas, Muhammadiyah akan mendorong keterlibatan mubalig, dosen, mahasiswa, dan kader-kadernya untuk memberikan pembinaan keislaman secara terstruktur dan berkelanjutan.

Pembinaan tersebut dapat berupa pengajian, pembelajaran membaca Al-Qur’an, penguatan akidah, pendampingan ibadah, pembinaan akhlak, serta penguatan motivasi untuk berubah.

Namun, dakwah di lingkungan pemasyarakatan tidak boleh hadir dengan cara menghakimi masa lalu seseorang. Dakwah harus datang sebagai sahabat yang merangkul, mendampingi, dan menuntun.

Warga binaan mungkin pernah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tidak seharusnya menutup seluruh jalan menuju perubahan.

Setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki perilaku, dan membangun kembali kehidupannya.

Karena itu, pesan utama dakwah di lembaga pemasyarakatan bukanlah memperbesar rasa bersalah, melainkan menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ridwan Hayatuddin juga memberikan landasan spiritual bahwa manusia sejak awal penciptaannya merupakan makhluk yang saling membutuhkan.

Manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan hubungan dengan Allah atau hablum minallah, sekaligus hubungan yang baik dengan sesama manusia atau hablum minannas.

Kerja sama ini merupakan wujud nyata dari hubungan sosial tersebut. Perguruan tinggi membawa ilmu, Muhammadiyah membawa dakwah, dan jajaran pemasyarakatan menyediakan ruang pembinaan.

Ketiganya bertemu dalam tujuan yang sama, yaitu memulihkan manusia.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., menjelaskan bahwa paradigma pemasyarakatan telah berubah.

Pada masa lalu, penjara lebih sering dipahami sebagai tempat penghukuman, pembalasan, dan pengasingan seseorang dari masyarakat.

Namun, sistem pemasyarakatan saat ini menempatkan warga binaan sebagai subjek pembinaan.

Mereka bukan hanya orang yang sedang menjalani hukuman, tetapi manusia yang harus dipersiapkan agar mampu kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Pembinaan warga binaan meliputi dua aspek utama, yaitu pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.

Pembinaan kepribadian berkaitan dengan mental, moral, keagamaan, kesadaran hukum, disiplin, dan perubahan perilaku.

Sementara itu, pembinaan kemandirian berkaitan dengan keterampilan kerja, kewirausahaan, pertanian, ketahanan pangan, pengolahan hasil usaha, menjahit, kerajinan, serta berbagai kemampuan produktif lainnya.

Kedua bentuk pembinaan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara maksimal hanya oleh petugas pemasyarakatan. Diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi keagamaan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Oleh karena itulah kerja sama dengan PWM Sumatera Selatan dan Universitas Muhammadiyah Palembang menjadi sangat penting.

Pendekatan hukum dan kedisiplinan tetap diperlukan. Namun, pendekatan tersebut harus diimbangi dengan pembinaan mental, moral, spiritual, dan keterampilan.

Seseorang yang keluar dari lembaga pemasyarakatan tanpa bekal keterampilan dan tanpa perubahan karakter akan menghadapi tantangan besar ketika kembali ke masyarakat.

Sebaliknya, seseorang yang dibekali pengetahuan, keimanan, keterampilan, dan kepercayaan diri memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan secara produktif dan tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.

Dalam kuliah umum yang disampaikannya, Yulius Sahruzah mengemukakan satu pemikiran yang sederhana tetapi mendalam. Ia berharap bekerja di lingkungan pemasyarakatan dapat menghasilkan dua bentuk “gaji”.

Gaji pertama adalah penghasilan sebagai aparatur negara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Gaji kedua adalah pahala dan amal kebaikan sebagai bekal kehidupan akhirat.

Pemikiran tersebut mengingatkan bahwa pekerjaan bukan hanya tentang jabatan dan materi. Nilai tertinggi dari sebuah pekerjaan justru terletak pada manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Ketika seorang warga binaan mampu berubah, kembali kepada keluarganya, memperoleh pekerjaan, dan menjalani kehidupan secara baik, di sanalah terdapat nilai kemanusiaan dan amal yang tidak dapat diukur hanya dengan angka.

Tantangan terbesar setelah penandatanganan MoU dan MoA adalah memastikan dokumen tersebut tidak berhenti sebagai arsip.

Kerja sama harus diterjemahkan menjadi program nyata, jadwal pelaksanaan, penanggung jawab, pembagian peran, serta evaluasi yang terukur.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah dapat berkoordinasi langsung dengan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di wilayah masing-masing.

Fakultas dan program studi dapat menyusun kegiatan sesuai dengan bidang keilmuannya.

Mahasiswa dapat memperoleh ruang untuk melakukan magang, penelitian, praktik lapangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Para dosen dapat mengembangkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberi jawaban atas persoalan nyata di lingkungan pemasyarakatan.

Program kerja sama dapat diarahkan pada pembinaan keagamaan, pendidikan hukum, pengelolaan sampah, pengolahan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pemasaran produk warga binaan, kesehatan, psikologi, serta peningkatan kompetensi pegawai pemasyarakatan.

Dengan pola seperti itu, semua pihak memperoleh manfaat.

Perguruan tinggi memperoleh ruang untuk mengimplementasikan Catur Dharma. Muhammadiyah dapat memperluas dakwah komunitas. Jajaran pemasyarakatan memperoleh dukungan ilmu dan sumber daya manusia. Warga binaan memperoleh pengetahuan, keterampilan, pendampingan, serta harapan.

Pada akhirnya, kegiatan di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang ini menyampaikan satu pesan penting: tidak ada manusia yang seharusnya kehilangan kesempatan untuk berubah.

Di balik jeruji mungkin ada seseorang yang sedang menyesali perbuatannya. Ada yang merindukan keluarga. Ada pula yang sedang berusaha menemukan kembali arah hidupnya.

Mereka tidak hanya membutuhkan hukuman. Mereka membutuhkan tuntunan, pendidikan, keterampilan, kepercayaan, dan kesempatan untuk pulang sebagai manusia yang lebih baik.

Ketika ilmu, dakwah, dan pembinaan berjalan bersama, lembaga pemasyarakatan tidak lagi hanya menjadi tempat seseorang menjalani hukuman. Ia dapat menjadi ruang lahirnya kesadaran, perubahan, dan harapan baru.

Semoga kerja sama ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar tumbuh menjadi pengabdian yang bernilai ibadah dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat Sumatera Selatan.

*Dosen Pascasarjana/Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang. Penulis lebih dari 390 artikel dan 30 judul buku. Penulis dan editor Majalah INKUIRI LLDikti Wilayah II.

Menembus Batas Global, Menguatkan Jejak Akademik UM Palembang

Tidak semua kegiatan akademik berakhir ketika moderator menutup acara dan para peserta meninggalkan ruangan.

Ada kalanya sebuah kegiatan ilmiah justru menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan baru, memperluas cara pandang, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa mimpi yang selama ini terasa jauh ternyata dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar.

Suasana itulah yang terasa ketika mengikuti workshop internasional bertajuk “Breaking Global Barriers: Strategic Manuscript Positioning and AI-Driven Execution for High-Impact Publication” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Palembang di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7, Senin, 3 Agustus 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ari Warokka, Ph.D., Professor of Finance and Global Business dari Tongmyong University, Republik Korea, sebagai narasumber utama.

Seminar ini dihadiri oleh Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang; Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., selaku Wakil Rektor II; Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., selaku Wakil Rektor III; Dr. Yudha Mahrom DS, S.E., M.Si., selaku Dekan FEB; Dr. Maftuhah Nurrahmi, S.E., M.Si., selaku Wakil Dekan I FEB; Dr. Tobari, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Doktor (S3) Manajemen; Prof. Dr. Faizal Daud Badariddin, M.S., selaku Sekretaris Program Studi Doktor (S3) Manajemen; Dr. Betri Sirajuddin, S.E., M.Si., Ak., C.A., CTT., selaku Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang juga bertindak sebagai moderator, serta diikuti oleh dosen, pascasarjana, dan para ketua dan sekretaris program studi.

Kehadiran para pimpinan universitas dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi bukan lagi sekadar wacana, melainkan komitmen yang terus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata.

Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin terbuka, membangun jejaring internasional telah menjadi kebutuhan strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Ari Warokka merupakan bagian dari ikhtiar Universitas Muhammadiyah Palembang dalam memperluas jejaring akademik internasional.

Sebagai perguruan tinggi yang telah meraih Akreditasi Unggul, universitas memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi, memperkuat budaya riset, memperluas kolaborasi global, dan menghasilkan karya ilmiah yang memberi manfaat nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Beliau juga menegaskan bahwa tantangan perguruan tinggi dewasa ini bukan hanya menghasilkan penelitian yang baik, tetapi bagaimana hasil penelitian tersebut mampu dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi sehingga menjadi bagian dari percakapan ilmiah dunia.

Oleh karena itu, kerja sama dengan Tongmyong University diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya berbagai penelitian bersama, publikasi kolaboratif, program visiting professor, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan kurikulum yang semakin berorientasi global.

Pesan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Reputasi sebuah universitas sesungguhnya tidak dibangun semata-mata oleh megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa, melainkan oleh kualitas ilmu pengetahuan yang dihasilkan, integritas akademik yang dijaga, dan kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.

Kampus akan semakin dihormati ketika mampu melahirkan penelitian yang dipercaya, dimanfaatkan, dan menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah di berbagai negara.

Momentum penting lainnya dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Implementation Agreement antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang dan Prodi-Prodinya dengan Tongmyong University, sekaligus penandatanganan kerja sama antara Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang dengan Tongmyong University.

Banyak orang memandang penandatanganan kerja sama sebagai agenda seremonial. Namun, dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Di balik setiap dokumen yang ditandatangani tersimpan sebuah amanah untuk mewujudkan berbagai program nyata.

Kerja sama baru akan memiliki makna apabila benar-benar diterjemahkan menjadi penelitian bersama, publikasi ilmiah kolaboratif, pertukaran pengalaman akademik, pendampingan penulisan artikel internasional, serta peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa secara berkelanjutan.

Terlebih bagi Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang yang baru akan dimulai, kolaborasi internasional merupakan investasi akademik yang sangat berharga.

Program doktor tidak cukup hanya menyelenggarakan perkuliahan, tetapi harus menjadi ruang lahirnya pemikiran-pemikiran baru, riset yang berkualitas, serta karya ilmiah yang mampu menjawab berbagai persoalan organisasi, dunia usaha, pemerintahan, dan pembangunan bangsa.

Workshop internasional hari ini kemudian membawa seluruh peserta memasuki sesi yang mungkin akan terus dikenang.

Melalui pengalaman panjangnya sebagai akademisi internasional dan editor berbagai jurnal bereputasi, Prof. Ari Warokka tidak hanya menjelaskan bagaimana sebuah artikel ilmiah ditulis, tetapi juga mengubah cara pandang peserta workshop terhadap publikasi internasional.  Apa yang selama ini tampak sulit perlahan terasa lebih mungkin untuk diwujudkan.

Dari sinilah terasa bahwa seminar tersebut bukan sekadar forum berbagi ilmu, melainkan awal tumbuhnya optimisme baru bagi para dosen Indonesia untuk melangkah lebih percaya diri menuju panggung akademik dunia.

Apa yang disampaikan Prof. Ari Warokka pada sesi berikutnya benar-benar membuka cakrawala berpikir para peserta.

Selama hampir seluruh sesi berlangsung, waktu terasa berjalan begitu cepat. Bukan karena materi yang disampaikan terlalu banyak, melainkan karena setiap penjelasan menghadirkan perspektif baru mengenai dunia publikasi ilmiah internasional yang selama ini mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh banyak dosen dan peneliti.

Selama ini tidak sedikit akademisi yang memandang publikasi pada jurnal bereputasi internasional, khususnya yang terindeks Scopus, sebagai sesuatu yang sangat sulit dicapai.

Tidak jarang muncul anggapan bahwa jurnal-jurnal tersebut hanya dapat ditembus oleh peneliti dari universitas-universitas besar dunia yang memiliki fasilitas penelitian sangat lengkap.

Melalui pemaparannya, Prof. Ari justru memperlihatkan sudut pandang yang berbeda.

Beliau menjelaskan bahwa peluang untuk mempublikasikan artikel pada jurnal bereputasi sesungguhnya terbuka bagi siapa saja yang mampu memahami arah perkembangan penelitian global, memilih persoalan penelitian yang relevan, menyusun manuskrip dengan kontribusi ilmiah yang jelas, serta mengikuti standar yang diharapkan oleh editor dan reviewer.

Dengan kata lain, yang dinilai bukan semata asal institusi penulis, tetapi kualitas gagasan, kebaruan penelitian, ketepatan metodologi, dan kemampuan menunjukkan manfaat ilmiah dari hasil penelitian tersebut.

Salah satu pesan yang paling teringat adalah pentingnya melihat penelitian bukan hanya dari sudut persoalan lokal, tetapi juga dari perspektif global.

Sebuah penelitian akan memiliki peluang lebih besar untuk diterima apabila mampu menjawab isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat ilmiah internasional, tanpa kehilangan relevansinya terhadap kondisi yang dihadapi di Indonesia.

Di sinilah kemampuan memosisikan manuskrip (strategic manuscript positioning) menjadi sangat menentukan.

Materi tersebut juga memberikan pemahaman bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses penelitian dan penulisan artikel ilmiah.

AI bukanlah pengganti pemikiran peneliti, melainkan alat yang membantu mempercepat penelusuran literatur, mengelola informasi, menyempurnakan struktur penulisan, serta meningkatkan efisiensi proses penyusunan manuskrip.

Integritas akademik, orisinalitas gagasan, dan kejujuran ilmiah tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan.

Yang lebih menggembirakan lagi, Prof. Ari tidak berhenti pada penyampaian teori.

Beliau menyampaikan kesiapan untuk membuka ruang kolaborasi akademik bersama Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai tindak lanjut dari Implementation Agreement yang baru saja ditandatangani.

Kesempatan tersebut menjadi harapan besar bagi para dosen untuk membangun penelitian bersama lintas negara, saling bertukar pengalaman akademik, mengembangkan tema-tema penelitian yang memiliki daya saing global, hingga menghasilkan publikasi bersama pada jurnal internasional bereputasi.

Sesungguhnya, inilah makna dari kerja sama internasional.

Kolaborasi bukan hanya mempertemukan dua institusi dalam satu dokumen, tetapi mempertemukan gagasan, pengalaman, budaya akademik, dan semangat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih berkualitas.

Ketika peneliti Indonesia dan Korea Selatan duduk bersama merumuskan persoalan, berbagi data, mendiskusikan metodologi, dan menulis artikel secara kolaboratif, maka penelitian yang dihasilkan akan memiliki perspektif yang lebih luas serta kontribusi yang lebih kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Harapan tersebut tentu menjadi energi baru bagi Universitas Muhammadiyah Palembang, khususnya Program Studi Doktor (S3) Manajemen.

Program doktor membutuhkan lingkungan akademik yang dinamis, jejaring internasional yang luas, serta budaya penelitian yang terus berkembang.

Kerja sama seperti ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas penelitian dosen dan mahasiswa, memperluas publikasi internasional, serta memperkuat reputasi akademik universitas di tingkat global.

Namun demikian, keberhasilan kerja sama tidak akan diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani ataupun jumlah foto yang diabadikan.

Nilai sesungguhnya baru akan terlihat ketika lahir penelitian bersama, artikel yang diterbitkan pada jurnal bereputasi, mahasiswa yang memperoleh pengalaman akademik internasional, dosen yang saling bertukar keahlian, dan hasil penelitian yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Workshop ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan publikasi internasional tidak pernah lahir secara instan.

Di balik setiap artikel yang berhasil diterbitkan terdapat proses panjang membaca, meneliti, berdiskusi, menulis, menerima kritik dari reviewer, melakukan revisi berkali-kali, bahkan menghadapi penolakan.

Namun setiap proses tersebut sesungguhnya adalah bagian dari pembelajaran yang membentuk kedewasaan seorang akademisi.

Penolakan bukanlah akhir perjalanan, melainkan langkah untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Workshop internasional ini bukan sekadar menambah pengetahuan tentang teknik menulis artikel ilmiah, tetapi juga membangun keyakinan bahwa dosen-dosen Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada panggung akademik dunia.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk terus belajar, kemauan membuka diri terhadap kolaborasi internasional, serta komitmen menjaga kualitas dan integritas dalam setiap penelitian yang dilakukan.

Pada akhirnya, dapat disadari bahwa menembus batas global sesungguhnya tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar.

Ia dapat berawal dari satu ruang workshop atau seminar, satu pertemuan ilmiah, satu manuskrip yang ditulis dengan sungguh-sungguh, dan satu kolaborasi yang dibangun atas dasar saling percaya.

Dari langkah-langkah kecil itulah lahir karya-karya besar yang mampu memberi manfaat melampaui batas negara.

Semoga workshop internasional dan penandatanganan Implementation Agreement ini menjadi titik awal lahirnya lebih banyak penelitian kolaboratif, publikasi bereputasi internasional, serta jejaring akademik yang semakin kuat antara Universitas Muhammadiyah Palembang dan Tongmyong University.

Lebih dari itu, semoga semangat yang tumbuh pada hari ini mampu menginspirasi para dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk terus berkarya, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menemukan kemuliaannya ketika dibagikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat manusia.

*Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Ketua Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang. Penulis lebih dari 389 artikel dan 30 judul buku, serta Editor Majalah INKUIRI LLDIKTI Wilayah II.

Pengabdian melalui Literasi Digital, UM Palembang Bekali Tenaga Kependidikan Menulis Berita Bermakna

Oleh: Tobari*

Pengabdian kepada masyarakat pada hakikatnya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pemberian bantuan fisik, tetapi juga dapat dilakukan dengan membagikan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang memberikan manfaat berkelanjutan.

Dalam lingkungan perguruan tinggi, penguatan kapasitas masyarakat kampus menjadi salah satu bentuk pengabdian yang penting, terutama ketika kemampuan yang diberikan dapat digunakan untuk memperluas penyebaran informasi pendidikan kepada masyarakat.

Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pelatihan Penulisan Berita Kegiatan Program Studi dan Fakultas di Media Massa yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Palembang pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 09.00–11.00 WIB.

Kegiatan berlangsung di Aula Lantai 7 Gedung KH. Faqih Usman, Kampus A Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pelatihan diikuti oleh 25 tenaga kependidikan yang berasal dari berbagai program studi, fakultas, dan unit kerja di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang.

 

 

Para peserta merupakan bagian penting dalam pengelolaan administrasi, dokumentasi, pelayanan informasi, dan penyebarluasan kegiatan institusi.

Oleh karena itu, peningkatan kemampuan menulis berita menjadi kebutuhan yang berkaitan langsung dengan profesionalisme serta kualitas pelayanan informasi kepada masyarakat.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui koordinasi bidang sumber daya manusia, kerja sama, dan internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Palembang.

Panitia kegiatan terdiri atas Dr. Eko Ariyanto, S.T., M.Chem.Eng., selaku Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Kerja Sama, dan Internasionalisasi; Afandi, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Biro Sumber Daya Manusia Universitas Muhammadiyah Palembang; serta Dr. Bagas Rasid Sidik, M.Pd., yang bertugas memandu jalannya kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tobari, S.E., M.Si., C.Ed., C.EML., Ketua Prodi Program Doktor Manajemen UMPalembang sekaligus dosen Pascasarjana dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang, hadir sebagai narasumber.

Materi yang disampaikan berfokus pada keterampilan menulis berita kegiatan program studi dan fakultas sesuai dengan kaidah jurnalistik, kebutuhan publikasi media massa, serta karakter komunikasi institusi pendidikan.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kependidikan dalam mendokumentasikan serta memublikasikan berbagai aktivitas kampus.

Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap aktivitas akademik, kemahasiswaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, inovasi, dan prestasi memiliki nilai informasi yang perlu disampaikan kepada publik.

Selama ini, banyak kegiatan positif telah dilaksanakan oleh program studi, fakultas, maupun unit kerja. Namun, tidak seluruh kegiatan tersebut terdokumentasi dan terpublikasi secara optimal.

Akibatnya, berbagai kontribusi, inovasi, dan prestasi yang sebenarnya membanggakan belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat luas.

Melalui pelatihan ini, peserta diberikan pemahaman bahwa menulis berita bukan sekadar mencatat urutan acara.

Berita harus mampu menjawab unsur apa yang dilaksanakan, siapa yang terlibat, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, mengapa kegiatan itu penting, serta bagaimana manfaatnya bagi peserta, institusi, dan masyarakat.

 

Sebuah berita kegiatan akan kehilangan kekuatannya apabila hanya memuat nama pejabat, susunan acara, dan dokumentasi seremonial.

Berita yang baik perlu menghadirkan makna, menjelaskan tujuan, menggambarkan proses, serta memperlihatkan perubahan atau manfaat yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.

Dalam arahannya, Dr. Eko Ariyanto menyampaikan bahwa kemampuan menulis dan memublikasikan kegiatan memiliki hubungan erat dengan reputasi digital perguruan tinggi.

Publikasi yang dilakukan secara aktif, konsisten, dan berkualitas akan memperkuat jejak digital Universitas Muhammadiyah Palembang pada mesin pencari serta mendukung peningkatan keterlihatan institusi dalam pemeringkatan digital, termasuk Webometrics.

Semakin banyak informasi positif, kredibel, dan relevan yang terindeks di ruang digital, semakin besar pula peluang universitas untuk dikenal masyarakat.

Publikasi tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi calon mahasiswa, orang tua, mitra kerja sama, lembaga pemerintah, dunia usaha, dunia industri, alumni, serta masyarakat akademik pada tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai narasumber, Dr. Tobari memberikan penguatan mengenai struktur dasar penulisan berita, penentuan sudut pandang, penyusunan judul, pembuatan teras berita, pengembangan isi, penggunaan kutipan narasumber, pemilihan foto, serta pentingnya melakukan pemeriksaan ulang sebelum tulisan dipublikasikan.

Peserta juga diarahkan untuk menggunakan bahasa yang komunikatif, jelas, faktual, dan mudah dipahami.

Penggunaan istilah yang terlalu teknis perlu disesuaikan agar berita kampus tidak hanya dapat dibaca oleh kalangan akademik, tetapi juga dapat dipahami oleh masyarakat umum.

Selain keterampilan teknis, pelatihan menekankan pentingnya etika publikasi. Nama, gelar, jabatan, waktu, tempat, data, dan pernyataan narasumber harus diperiksa kebenarannya.

Kesalahan dalam menyampaikan informasi bukan hanya dapat mengurangi kualitas tulisan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi.

Kegiatan dilaksanakan melalui metode penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, pemberian contoh, serta praktik menulis berita.

Setelah memperoleh penjelasan, para peserta diminta menyusun berita berdasarkan kegiatan yang berlangsung di unit kerjanya masing-masing.

Praktik tersebut bertujuan agar peserta tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung.

Pendekatan praktik menjadi bagian penting karena kemampuan menulis tidak cukup dibangun hanya dengan mendengarkan materi.

Keterampilan tersebut harus tumbuh melalui latihan, keberanian memulai, kesediaan menerima koreksi, dan konsistensi dalam menghasilkan tulisan.

Bagi tenaga kependidikan, kemampuan mengelola informasi merupakan bagian dari profesionalisme kerja di era digital.

Mereka bukan hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga dapat berperan sebagai penghubung antara aktivitas institusi dan kebutuhan informasi masyarakat.

Setiap unit kerja diharapkan memiliki personel yang mampu mendokumentasikan kegiatan dan mengolahnya menjadi berita yang layak dipublikasikan.

Dari perspektif pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini memberikan manfaat berupa peningkatan literasi digital, kemampuan komunikasi publik, dan keterampilan jurnalistik bagi komunitas pendidikan.

Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi diterapkan secara berkelanjutan untuk menyebarluaskan informasi yang mendidik, mencerahkan, dan menginspirasi.

Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya jumlah dan kualitas berita yang dihasilkan oleh program studi, fakultas, dan unit kerja.

Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak publikasi di lingkungan kerjanya masing-masing serta membangun jejaring komunikasi yang mempercepat penyebaran informasi institusi.

Kegiatan ini juga dapat menjadi langkah awal pembentukan budaya menulis di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Budaya publikasi tidak akan tumbuh hanya melalui instruksi, tetapi perlu dibangun melalui pelatihan, pendampingan, pemberian ruang untuk berkarya, dan penghargaan terhadap setiap tulisan yang dihasilkan.

Pada akhirnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya melaksanakan kegiatan yang baik. Perguruan tinggi juga perlu menyampaikan kebaikan tersebut kepada masyarakat secara jujur, tepat, menarik, dan bermakna.

Kegiatan yang tidak didokumentasikan dapat dengan mudah terlupakan, sedangkan kegiatan yang ditulis dengan baik dapat menjadi pengetahuan, bukti kontribusi, sumber inspirasi, dan rekam jejak institusi.

Dari ruang pelatihan di Aula Lantai 7 Gedung KH. Faqih Usman, tumbuh sebuah harapan bahwa 25 peserta yang telah memperoleh pembekalan dapat menjadi penggerak lahirnya berbagai berita positif dari setiap unit kerja.

Mereka diharapkan mampu mengangkat prestasi, inovasi, kerja sama, penelitian, dan pengabdian Universitas Muhammadiyah Palembang agar semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menulis berita dengan demikian bukan hanya pekerjaan menyusun kata-kata. Menulis adalah cara merawat ingatan, menyebarluaskan pengetahuan, membangun kepercayaan, dan memperpanjang manfaat sebuah kegiatan.

Ketika pengetahuan dibagikan dengan ketulusan dan tanggung jawab, kegiatan sederhana pun dapat berubah menjadi pengabdian yang penuh arti.

Melalui semangat kolaborasi, literasi digital, dan peningkatan mutu publikasi, Universitas Muhammadiyah Palembang diharapkan semakin kuat menjadi perguruan tinggi yang aktif, produktif, informatif, dan berdaya saing.

Dari setiap tulisan yang diterbitkan, terdapat kesempatan untuk memperkenalkan kebaikan, menginspirasi masyarakat, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan. Semoga.

*Dosen Pascasarjana/Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang. Penulis lebih dari 385 artikel dan 30 judul buku. Penulis dan editor Majalah INKUIRI LLDikti Wilayah II.