Kolaborasi Global STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University Dorong UMKM

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat dan mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, pertanyaan yang semakin penting bukan lagi tentang seberapa canggih AI dapat dikembangkan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu ruh dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan secara hybrid oleh STIAB Jinarakkhitta Lampung bersama Tongmyong University, South Korea, Selasa, 18 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Optimizing Artificial Intelligence for Digital Financial Inclusion and Digital Entrepreneurship“, seminar ini menjadi ruang akademik untuk membahas peluang AI dalam memperluas inklusi keuangan digital sekaligus mendorong lahirnya kewirausahaan digital yang inovatif, produktif, dan bertanggung jawab.

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Ari Warokka, Ph.D., dari Global Business Department, Busan International College (BIC), Tongmyong University, South Korea, sebagai speaker.

Kegiatan diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, peneliti, mitra akademik, serta peserta dari berbagai daerah. Kehadiran mahasiswa internasional dari Gambia dan Filipina turut memberikan warna global dalam forum tersebut.

Seminar juga melibatkan berbagai institusi sebagai Co-Host, yaitu IFMA (International Financial Management Association), Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta, STIB Kertarajasa Malang, STAB Maitreyawira Pekanbaru, STMIK Dharmapala Riau, STAB Bodhi Dharma Medan, dan STAH Lampung.

Keterlibatan berbagai perguruan tinggi dan organisasi tersebut memperlihatkan bahwa isu AI, inklusi keuangan, dan kewirausahaan digital bukan lagi menjadi perhatian satu institusi, tetapi merupakan agenda bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Dalam seminar tersebut, Prof. Ari Warokka, Ph.D. menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam perspektif yang lebih luas. AI bukan sekadar teknologi untuk meningkatkan efisiensi, mengolah informasi, mendukung pengambilan keputusan, dan menciptakan inovasi, tetapi harus diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia.

“AI tidak bisa lagi ditinggalkan. Yang terpenting bukan sekadar bagaimana kita menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi ini dimanfaatkan secara bijak untuk menciptakan nilai, memperluas akses, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Ari.

Dalam konteks inklusi keuangan digital, AI dapat dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah, sederhana, terpercaya, dan sesuai kebutuhan. Masyarakat pedesaan, pelaku usaha informal, dan UMKM menjadi kelompok penting yang perlu merasakan manfaat perkembangan teknologi tersebut.

Dalam kewirausahaan digital, AI juga dapat membantu mengembangkan ide, membuat materi promosi, menganalisis pasar, meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, hingga menciptakan inovasi bisnis.

Namun, Prof. Ari menekankan bahwa pemanfaatan AI harus tetap berlandaskan etika, keamanan data, penghormatan terhadap hak cipta, dan tanggung jawab. Teknologi harus menjadi alat yang dikendalikan manusia untuk menciptakan kemanfaatan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya mewakili Kepala STIAB Jinarakkhita Lampung, Ketua Panitia Dr. Hendri Ardianto, M.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya seminar internasional tersebut. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin cepat.

“Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi inovator, problem solver, dan creator yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Hendri.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan etis. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu menciptakan inovasi dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ini adalah adanya penandatanganan IA (Implementation Agreement) sebagai bentuk implementasi kerja sama akademik.

Pada momentum tersebut, dilakukan penandatanganan IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kerja sama tersebut menjadi langkah konkret untuk menerjemahkan hubungan antarlembaga ke dalam kegiatan yang lebih nyata, khususnya dalam pengembangan akademik, penelitian, publikasi, dan kegiatan lain yang dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Penandatanganan IA juga dilakukan antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma (UBD).

Dengan demikian, seminar internasional tidak hanya menjadi forum untuk mendengarkan pemaparan dan bertukar gagasan, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk membangun fondasi kerja sama yang dapat dilanjutkan dalam berbagai program akademik.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang, serta Dr. Dewi Sartika, S.E., M.Si., Ak., Ketua Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma.

Kehadiran kedua pimpinan program studi tersebut sekaligus memperlihatkan adanya semangat untuk membangun jejaring akademik yang lebih luas.

Penandatanganan IA (Implementation Agreement) memiliki makna penting karena kerja sama perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada dokumen formal.

Kerja sama akan memiliki nilai ketika diterjemahkan menjadi kegiatan nyata.

Mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar dan konferensi, pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dari kegiatan hari itu: kolaborasi bukan sekadar tentang siapa yang menandatangani dokumen, tetapi tentang apa yang dapat dilakukan bersama setelah dokumen tersebut ditandatangani.

Dalam konteks inilah IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Prodi S3 Manajemen UM Palembang serta Prodi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma memiliki arti strategis.

Kolaborasi dapat mempertemukan keunggulan masing-masing institusi sehingga menghasilkan kegiatan yang lebih luas dan berdampak.

Kerja sama dengan Tongmyong University, South Korea, memberikan dimensi internasional dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran Prof. Ari Warokka, Ph.D., sebagai speaker membuka kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan wawasan dari perspektif internasional, terutama mengenai perkembangan bisnis global, teknologi, dan kewirausahaan.

ementara kehadiran mahasiswa dari Gambia dan Filipina memperlihatkan bahwa ruang akademik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif lintas negara.

Inilah kekuatan pendidikan tinggi pada era global.

Kampus tidak lagi dapat berjalan sendiri. Perguruan tinggi perlu membangun jejaring, membuka ruang dialog, dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri.

Seminar internasional ini pada akhirnya menyampaikan sebuah pesan sederhana tetapi penting.

AI tidak seharusnya hanya dipandang sebagai teknologi yang akan menggantikan pekerjaan manusia.

AI justru harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia.

Teknologi dapat membantu masyarakat mengakses informasi, membantu UMKM mengembangkan usaha, membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas, membantu peneliti menemukan pengetahuan baru, dan membantu perguruan tinggi memperluas dampak pengabdiannya.

Oleh karena itu, masa depan AI sangat ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

Apabila AI dikembangkan dengan pengetahuan, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, teknologi tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Seminar Internasional STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University menjadi salah satu langkah menuju arah tersebut.

Lebih dari sekadar forum akademik, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana gagasan, jejaring, dan kerja sama dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk membangun masa depan pendidikan dan masyarakat yang lebih baik.

Saat ketika seminar berakhir, sesungguhnya pekerjaan baru dimulai: mengubah gagasan menjadi kolaborasi, kolaborasi menjadi implementasi, dan implementasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *