Langganan EBSCO, UM Palembang Perkuat Budaya Riset Dosen Manajemen
Akses terhadap jurnal ilmiah berkualitas bukan sekadar persoalan memiliki fasilitas. Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut benar-benar digunakan untuk membaca, mengkritisi penelitian terdahulu, menemukan research gap, melahirkan penelitian baru, hingga menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas.
Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan EBSCO yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Palembang pada Jumat, 4 September 2026, di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut mempertemukan para dosen Manajemen dari tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni Program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) Manajemen.

Pertemuan lintas jenjang ini menjadi menarik karena pemanfaatan sumber literatur ilmiah sesungguhnya merupakan kebutuhan bersama.
Mahasiswa S1 memerlukannya untuk membangun kebiasaan membaca sumber ilmiah yang kredibel.
Pada jenjang magister, literatur menjadi dasar untuk memperkuat analisis dan penelitian.
Sementara pada jenjang doktoral, kemampuan menelusuri perkembangan ilmu mutakhir menjadi kebutuhan mendasar dalam menemukan kebaruan penelitian.
Narasumber kegiatan adalah Erik Junikon, Regional Sales Manager EBSCO International, yang memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan database EBSCO, khususnya sumber literatur yang relevan dengan bidang manajemen dan bisnis.
Moderator dan pembawa acara pada kegiatan ini Anggrelia Afrida, S.E., M.Si., dosen Prodi Akuntansi FEB UM Palembang.

Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., mewakili Rektor menyampaikan arahannya, ia menekankan pentingnya menjadikan fasilitas jurnal yang telah tersedia sebagai bagian nyata dari proses pembelajaran dan penelitian.
“Fasilitas jurnal melalui EBSCO ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh dosen dan mahasiswa, baik untuk mendukung proses pembelajaran, penelaahan artikel ilmiah, penyusunan kajian, maupun pengembangan riset. Mahasiswa dapat diarahkan membaca dan menganalisis beberapa jurnal, kemudian menyusun critical review untuk menemukan research gap yang dapat dikembangkan menjadi penelitian. Melalui dukungan sumber referensi yang semakin mudah diakses, proses pembelajaran berbasis OBE, penelitian, publikasi, serta pengembangan karier akademik dosen diharapkan semakin kuat.” Ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena ketersediaan database akademik tidak akan banyak berarti apabila berhenti sebatas pada kepemilikan akun atau fasilitas berlangganan.
Jurnal harus dibaca. Hasil penelitian perlu dibandingkan. Metodologi perlu dikritisi. Temuan-temuan terdahulu perlu dipetakan. Dari proses itulah pertanyaan penelitian baru dapat muncul.
Pada akhirnya, literatur bukan sekadar menjadi kumpulan referensi dalam daftar pustaka, tetapi menjadi peta yang membantu peneliti menentukan ke mana penelitian berikutnya harus bergerak.
Pemanfaatan EBSCO juga memiliki relevansi dengan implementasi Outcome-Based Education (OBE).
Dalam pembelajaran, mahasiswa dapat diberikan tugas yang tidak hanya meminta mereka menghafal konsep, tetapi mengakses beberapa artikel ilmiah, membandingkan temuan, melakukan critical review, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, kemudian mengembangkan gagasan penelitian berdasarkan literatur tersebut.

Model seperti ini dapat menggeser proses pembelajaran dari sekadar menerima informasi menjadi belajar menemukan, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan.
Lebih jauh lagi, kebiasaan tersebut dapat dibangun secara berjenjang.
Pada S1, mahasiswa mulai dibiasakan mengenali artikel ilmiah berkualitas.
Pada S2, kemampuan tersebut diperkuat melalui analisis dan sintesis berbagai penelitian.
Sedangkan pada S3, mahasiswa dituntut mampu melihat posisi penelitian mereka di antara perkembangan keilmuan global serta menemukan kontribusi yang benar-benar memiliki kebaruan.
Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Pascasarjana UM Palembang Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., Ketua Program Studi Doktor Manajemen Dr. Tobari, S.E., M.Si., dan Sekretaris Program Studi Doktor Manajemen Prof. Dr. Ir. Faizal Daud Badaruddin, M.S.
Hadir pula Ketua Program Studi Magister Manajemen Dr. Zaleha Trihandayani, S.E., M.Si. dan Sekretaris Program Studi Magister Manajemen Dr. Eni Cahyani, S.E., M.Si.
Dari Program Studi S1 Manajemen hadir Dr. Mister Candera, S.Pd., M.Si., dan Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Dr. Dinarossi Utami, S.E., M.Si., serta para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Turut mengikuti kegiatan tersebut antara lain Prof. Dr. Fatimah, S.E., M.Si., Dr. Sunardi, S.E., M.Si., Dr. Diah Isnaini Asiati, S.E., M.M., dosen S3 Manajemen dan para dosen lainnya.
Direktur Pascasarjana UM Palembang, Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., memandang pemanfaatan database akademik seperti EBSCO penting untuk memperkuat budaya akademik universitas.
Pada kesempatan tersebut Dr. Mukhtarudin menyampaikan “Kehadiran EBSCO bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi harus menjadi pintu masuk untuk membangun budaya akademik yang lebih kuat. Melalui keterlibatan dosen S1, S2, dan S3 Manajemen, akses terhadap referensi bermutu diharapkan mampu melahirkan pembelajaran yang lebih kaya, penelitian yang lebih tajam, serta publikasi ilmiah yang semakin berkualitas dan berdampak.” Jelasnya.
“Terima kasih kepada Bapak Rektor UM Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., yang telah membuka fasilitasi jurnal-jurnal internasional dalam naungan EBSCO dalam bidang ilmu sosial, ekonomi dan manajemen. Harapan kami di tahun mendatang akan difasilitasi juga jurnal-jurnal internasional bidang teknik, hukum, kependidikan, kedokteran dan teknologi pangan dan pertanian, serta keagamaan.” Ungkapnya.
Kehadiran dosen dari S1, S2, hingga S3 Manajemen menjadi momentum untuk membangun kesinambungan akademik.
Akses terhadap sumber referensi yang kredibel dan mutakhir diharapkan tidak hanya memperkaya pembelajaran, tetapi juga mempertajam kualitas penelitian serta meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah.
Dalam pemaparannya, Erik Junikon menjelaskan berbagai koleksi yang tersedia melalui EBSCO, khususnya database bidang bisnis dan manajemen.
Database tersebut memuat beragam sumber seperti jurnal akademik, majalah bisnis, serta publikasi yang relevan dengan kajian manajemen, pemasaran, akuntansi, sistem informasi, hingga bidang terkait lainnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian publikasi tersedia dalam bentuk full text, sementara sebagian lainnya memiliki ketentuan tertentu seperti masa embargo.
Selain itu, koleksi database juga mencakup publikasi yang telah terindeks pada basis data bibliografis internasional.

Penjelasan mengenai sistem agregator menjadi penting agar pengguna memahami bahwa keberadaan sebuah jurnal dalam database tidak selalu berarti seluruh edisi terbaru otomatis tersedia dalam bentuk full text.
Ada mekanisme lisensi, kerja sama dengan penerbit, dan masa embargo yang memengaruhi akses terhadap sebuah publikasi.
Namun bagi dosen dan mahasiswa, pesan terpentingnya sederhana: sumber literatur berkualitas kini telah tersedia dan perlu dimanfaatkan secara maksimal.
Berlangganan database ilmiah membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:
“Apakah universitas memiliki akses EBSCO?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Berapa banyak dosen dan mahasiswa yang menggunakannya untuk menghasilkan pembelajaran, penelitian, dan publikasi yang lebih baik?”
Di sinilah pelatihan seperti yang dilaksanakan UM Palembang memiliki arti.
Database akademik baru akan bernilai ketika dosen menjadikannya sumber utama dalam memperbarui bahan ajar, mahasiswa menggunakannya untuk membaca perkembangan penelitian mutakhir, peneliti memanfaatkannya untuk membangun state of the art, dan karya ilmiah yang dihasilkan semakin kaya oleh referensi berkualitas.
Bagi Program Studi Manajemen dari S1 hingga S3, akses EBSCO juga membuka peluang membangun sebuah ekosistem riset yang saling terhubung.
Satu artikel dapat melahirkan pertanyaan. Beberapa artikel dapat memperlihatkan pola.
Puluhan artikel dapat memperlihatkan kesenjangan penelitian, dan dari kesenjangan itulah sebuah penelitian baru dapat dimulai.
Teknologi telah menyediakan pintunya. Database telah menyediakan sumbernya.
Tugas dunia akademik selanjutnya adalah membaca, berpikir kritis, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang memberi manfaat.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah perguruan tinggi bukan diukur dari seberapa banyak database yang dilanggan, melainkan dari seberapa jauh ilmu yang tersedia di dalamnya berhasil diubah menjadi pengetahuan baru dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Semoga.
