Langganan EBSCO, UM Palembang Perkuat Budaya Riset Dosen Manajemen

Akses terhadap jurnal ilmiah berkualitas bukan sekadar persoalan memiliki fasilitas. Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut benar-benar digunakan untuk membaca, mengkritisi penelitian terdahulu, menemukan research gap, melahirkan penelitian baru, hingga menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas.

Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan EBSCO yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Palembang pada Jumat, 4 September 2026, di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut mempertemukan para dosen Manajemen dari tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni Program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) Manajemen.

Pertemuan lintas jenjang ini menjadi menarik karena pemanfaatan sumber literatur ilmiah sesungguhnya merupakan kebutuhan bersama.

Mahasiswa S1 memerlukannya untuk membangun kebiasaan membaca sumber ilmiah yang kredibel.

Pada jenjang magister, literatur menjadi dasar untuk memperkuat analisis dan penelitian.

Sementara pada jenjang doktoral, kemampuan menelusuri perkembangan ilmu mutakhir menjadi kebutuhan mendasar dalam menemukan kebaruan penelitian.

Narasumber kegiatan adalah Erik Junikon, Regional Sales Manager EBSCO International, yang memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan database EBSCO, khususnya sumber literatur yang relevan dengan bidang manajemen dan bisnis.

Moderator dan pembawa acara pada kegiatan ini Anggrelia Afrida, S.E., M.Si., dosen Prodi Akuntansi FEB UM Palembang.

Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., mewakili Rektor menyampaikan arahannya, ia menekankan pentingnya menjadikan fasilitas jurnal yang telah tersedia sebagai bagian nyata dari proses pembelajaran dan penelitian.

“Fasilitas jurnal melalui EBSCO ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh dosen dan mahasiswa, baik untuk mendukung proses pembelajaran, penelaahan artikel ilmiah, penyusunan kajian, maupun pengembangan riset. Mahasiswa dapat diarahkan membaca dan menganalisis beberapa jurnal, kemudian menyusun critical review untuk menemukan research gap yang dapat dikembangkan menjadi penelitian. Melalui dukungan sumber referensi yang semakin mudah diakses, proses pembelajaran berbasis OBE, penelitian, publikasi, serta pengembangan karier akademik dosen diharapkan semakin kuat.” Ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena ketersediaan database akademik tidak akan banyak berarti apabila berhenti sebatas pada kepemilikan akun atau fasilitas berlangganan.

Jurnal harus dibaca. Hasil penelitian perlu dibandingkan. Metodologi perlu dikritisi. Temuan-temuan terdahulu perlu dipetakan. Dari proses itulah pertanyaan penelitian baru dapat muncul.

Pada akhirnya, literatur bukan sekadar menjadi kumpulan referensi dalam daftar pustaka, tetapi menjadi peta yang membantu peneliti menentukan ke mana penelitian berikutnya harus bergerak.

Pemanfaatan EBSCO juga memiliki relevansi dengan implementasi Outcome-Based Education (OBE).

Dalam pembelajaran, mahasiswa dapat diberikan tugas yang tidak hanya meminta mereka menghafal konsep, tetapi mengakses beberapa artikel ilmiah, membandingkan temuan, melakukan critical review, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, kemudian mengembangkan gagasan penelitian berdasarkan literatur tersebut.

Model seperti ini dapat menggeser proses pembelajaran dari sekadar menerima informasi menjadi belajar menemukan, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan.

Lebih jauh lagi, kebiasaan tersebut dapat dibangun secara berjenjang.

Pada S1, mahasiswa mulai dibiasakan mengenali artikel ilmiah berkualitas.

Pada S2, kemampuan tersebut diperkuat melalui analisis dan sintesis berbagai penelitian.

Sedangkan pada S3, mahasiswa dituntut mampu melihat posisi penelitian mereka di antara perkembangan keilmuan global serta menemukan kontribusi yang benar-benar memiliki kebaruan.

Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Pascasarjana UM Palembang Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., Ketua Program Studi Doktor Manajemen Dr. Tobari, S.E., M.Si., dan Sekretaris Program Studi Doktor Manajemen Prof. Dr. Ir. Faizal Daud Badaruddin, M.S.

Hadir pula Ketua Program Studi Magister Manajemen Dr. Zaleha Trihandayani, S.E., M.Si. dan Sekretaris Program Studi Magister Manajemen Dr. Eni Cahyani, S.E., M.Si.

Dari Program Studi S1 Manajemen hadir Dr. Mister Candera, S.Pd., M.Si., dan Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Dr. Dinarossi Utami, S.E., M.Si., serta para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Turut mengikuti kegiatan tersebut antara lain Prof. Dr. Fatimah, S.E., M.Si., Dr. Sunardi, S.E., M.Si., Dr. Diah Isnaini Asiati, S.E., M.M., dosen S3 Manajemen dan para dosen lainnya.

Direktur Pascasarjana UM Palembang, Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., memandang pemanfaatan database akademik seperti EBSCO penting untuk memperkuat budaya akademik universitas.

Pada kesempatan tersebut Dr. Mukhtarudin menyampaikan “Kehadiran EBSCO bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi harus menjadi pintu masuk untuk membangun budaya akademik yang lebih kuat. Melalui keterlibatan dosen S1, S2, dan S3 Manajemen, akses terhadap referensi bermutu diharapkan mampu melahirkan pembelajaran yang lebih kaya, penelitian yang lebih tajam, serta publikasi ilmiah yang semakin berkualitas dan berdampak.” Jelasnya.

“Terima kasih kepada Bapak Rektor UM Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., yang telah membuka fasilitasi jurnal-jurnal internasional dalam naungan EBSCO dalam bidang ilmu sosial, ekonomi dan manajemen. Harapan kami di tahun mendatang akan difasilitasi juga jurnal-jurnal internasional bidang teknik, hukum, kependidikan, kedokteran dan teknologi pangan dan pertanian, serta keagamaan.” Ungkapnya.

Kehadiran dosen dari S1, S2, hingga S3 Manajemen menjadi momentum untuk membangun kesinambungan akademik.

Akses terhadap sumber referensi yang kredibel dan mutakhir diharapkan tidak hanya memperkaya pembelajaran, tetapi juga mempertajam kualitas penelitian serta meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah.

Dalam pemaparannya, Erik Junikon menjelaskan berbagai koleksi yang tersedia melalui EBSCO, khususnya database bidang bisnis dan manajemen.

Database tersebut memuat beragam sumber seperti jurnal akademik, majalah bisnis, serta publikasi yang relevan dengan kajian manajemen, pemasaran, akuntansi, sistem informasi, hingga bidang terkait lainnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sebagian publikasi tersedia dalam bentuk full text, sementara sebagian lainnya memiliki ketentuan tertentu seperti masa embargo.

Selain itu, koleksi database juga mencakup publikasi yang telah terindeks pada basis data bibliografis internasional.

Penjelasan mengenai sistem agregator menjadi penting agar pengguna memahami bahwa keberadaan sebuah jurnal dalam database tidak selalu berarti seluruh edisi terbaru otomatis tersedia dalam bentuk full text.

Ada mekanisme lisensi, kerja sama dengan penerbit, dan masa embargo yang memengaruhi akses terhadap sebuah publikasi.

Namun bagi dosen dan mahasiswa, pesan terpentingnya sederhana: sumber literatur berkualitas kini telah tersedia dan perlu dimanfaatkan secara maksimal.

Berlangganan database ilmiah membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:

“Apakah universitas memiliki akses EBSCO?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Berapa banyak dosen dan mahasiswa yang menggunakannya untuk menghasilkan pembelajaran, penelitian, dan publikasi yang lebih baik?”

Di sinilah pelatihan seperti yang dilaksanakan UM Palembang memiliki arti.

Database akademik baru akan bernilai ketika dosen menjadikannya sumber utama dalam memperbarui bahan ajar, mahasiswa menggunakannya untuk membaca perkembangan penelitian mutakhir, peneliti memanfaatkannya untuk membangun state of the art, dan karya ilmiah yang dihasilkan semakin kaya oleh referensi berkualitas.

Bagi Program Studi Manajemen dari S1 hingga S3, akses EBSCO juga membuka peluang membangun sebuah ekosistem riset yang saling terhubung.

Satu artikel dapat melahirkan pertanyaan. Beberapa artikel dapat memperlihatkan pola.

Puluhan artikel dapat memperlihatkan kesenjangan penelitian, dan dari kesenjangan itulah sebuah penelitian baru dapat dimulai.

Teknologi telah menyediakan pintunya. Database telah menyediakan sumbernya.

Tugas dunia akademik selanjutnya adalah membaca, berpikir kritis, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang memberi manfaat.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah perguruan tinggi bukan diukur dari seberapa banyak database yang dilanggan, melainkan dari seberapa jauh ilmu yang tersedia di dalamnya berhasil diubah menjadi pengetahuan baru dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Semoga.

 

PKM Internasional Dilaksanakan di Desa Pejambon Provinsi Lampung

Teknologi akan memiliki makna ketika tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi mampu hadir di tengah masyarakat dan membantu menyelesaikan persoalan nyata.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang dilaksanakan di Desa Pejambon, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan bertajuk International Community Service Program tersebut merupakan kolaborasi STIAB Jinarakkhitta Lampung dan Tongmyong University, South Korea, dengan melibatkan berbagai unsur akademisi, mahasiswa, pemerintah desa, pelaku UMKM, pemuda, dan masyarakat.

Kegiatan PKM Internasional ini menjadi lanjutan dari seminar internasional yang dilaksanakan pada pagi hari. Jika seminar membahas gagasan besar mengenai optimalisasi Artificial Intelligence (AI) untuk inklusi keuangan digital dan kewirausahaan, maka kegiatan di Desa Pejambon menjadi ruang untuk membawa gagasan tersebut turun langsung ke masyarakat.

Dengan kata lain, dari seminar menuju aksi, dari gagasan menuju pemberdayaan.

Kegiatan ini semakin bermakna karena diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang dan negara. Selain akademisi dan mahasiswa dari Indonesia serta Korea Selatan, kegiatan juga melibatkan mahasiswa internasional dari Gambia dan Filipina.

Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri. Desa Pejambon tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pengabdian, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya, pengetahuan, dan pengalaman internasional.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Doktor Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak seminar internasional pada pagi hari hingga PKM Internasional di Desa Pejambon.

Kehadiran Dr. Tobari menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan kolaborasi akademik internasional yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga diarahkan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Turut hadir pula dari Universitas Bina Darma, Dr. Dewi Sartika, S.E., M.Si., Ak. Kehadiran para akademisi dari berbagai perguruan tinggi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.

Salah satu bagian paling menarik dari kegiatan adalah penyampaian materi yang bersifat praktis.

Prof. Ari Warokka, Ph.D., dari Tongmyong University, tidak hanya menjelaskan AI dalam konsep, tetapi mengajak peserta mempraktikkannya secara langsung menggunakan telepon genggam.

Peserta diajarkan bagaimana membuat foto produk yang lebih menarik, menghilangkan latar belakang foto, memilih latar yang sesuai, serta membuat desain yang dapat digunakan untuk kebutuhan promosi.

Peserta juga diperkenalkan dengan Canva untuk membuat label dan stiker kemasan. Dengan cara tersebut, pelaku UMKM dapat belajar menjadi lebih mandiri dalam menyiapkan identitas visual produknya tanpa harus selalu bergantung kepada jasa desain.

Bagi UMKM desa, kemampuan tersebut bukan sekadar persoalan estetika.

Kemasan, foto, label, dan cara menyampaikan informasi merupakan bagian dari bagaimana sebuah produk memperkenalkan dirinya kepada konsumen.

Produk yang baik membutuhkan komunikasi yang baik.

Di sinilah AI dan teknologi digital dapat menjadi alat bantu yang murah, mudah diakses, dan relatif sederhana.

Prof. Ari kemudian mengajarkan bagaimana AI dapat digunakan untuk mencari ide promosi.

Peserta diajak membuat prompt sederhana untuk meminta AI menyusun caption, pesan promosi WhatsApp, materi broadcast, hingga gagasan konten media sosial.

Rumus yang diperkenalkan juga sederhana: tentukan peran AI, jelaskan produk secara detail, kemudian tentukan target atau media yang dituju.

Misalnya, pelaku UMKM dapat meminta AI bertindak sebagai ahli pemasaran UMKM, kemudian menjelaskan produk yang dijual, keunggulannya, sasaran konsumen, dan media yang digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, AI dapat menjadi semacam teman berdiskusi atau konsultan pemasaran digital bagi pelaku usaha.

“AI bukan hanya untuk orang yang ahli teknologi. Dengan telepon genggam yang ada di tangan kita, AI dapat menjadi alat bantu untuk membuat produk lebih menarik, menyusun kata-kata promosi, dan membantu masyarakat memasarkan produknya,” jelas Prof. Ari.

Pesan ini menjadi penting karena teknologi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan hanya dapat digunakan oleh orang yang memiliki kemampuan khusus.

Padahal, teknologi akan semakin bermanfaat ketika dibuat sederhana dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

Hal penting lain yang diperkenalkan adalah penggunaan teknologi untuk pencatatan keuangan usaha.

Pelaku UMKM diajak memahami pentingnya mencatat transaksi, pemasukan, pengeluaran, piutang, dan pembayaran secara lebih teratur melalui aplikasi digital.

Selama ini, salah satu tantangan usaha kecil adalah pencatatan keuangan yang belum tertib.

Padahal, pencatatan merupakan fondasi penting untuk mengetahui kondisi usaha.

Tanpa catatan, pelaku usaha akan sulit mengetahui apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan, berapa jumlah piutang, bagaimana arus kas, dan berapa kemampuan usahanya berkembang.

Dengan pencatatan digital, UMKM didorong untuk mulai membangun kebiasaan usaha yang lebih profesional.

Lebih jauh, keteraturan pencatatan juga dapat membantu meningkatkan kesiapan UMKM ketika ingin mengakses pembiayaan formal.

Dengan demikian, digitalisasi UMKM bukan hanya tentang membuat promosi di media sosial, tetapi juga membangun usaha yang tertib, sehat, transparan, dan memiliki data.

Tema besar seminar internasional tentang “Optimizing Artificial Intelligence for Digital Financial Inclusion and Digital Entrepreneurship” memperoleh makna yang lebih konkret di Desa Pejambon.

Inklusi keuangan tidak cukup hanya dengan membuka akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

Masyarakat juga perlu memiliki literasi dan kemampuan untuk menggunakan layanan tersebut secara bijak.

Mencatat transaksi, memahami arus kas, memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, dan mengelola pembayaran merupakan bagian dari proses membangun UMKM yang lebih siap memasuki ekosistem ekonomi digital.

AI kemudian hadir sebagai instrumen pendukung.

Teknologi tidak mengambil alih peran manusia, tetapi membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih tertib, dan lebih kreatif.

Kepala Desa Pejambon, Edi Wartoyo, S.Pd.I., menyambut baik kegiatan tersebut.

Baginya, kehadiran perguruan tinggi dan mahasiswa internasional merupakan kehormatan sekaligus kesempatan belajar bagi masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan mendukung sepenuhnya program ini. Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia yang kami miliki, kami membutuhkan pembinaan agar sumber daya manusia dan potensi sumber daya alam di desa dapat terus dikembangkan,” ungkap Edi.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membantu masyarakat menggali potensi UMKM, pertanian, dan sektor ekonomi lainnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mari kita manfaatkan momentum ini untuk belajar dan maju bersama. Kami ingin Desa Pejambon menjadi desa yang terus berkembang, dengan masyarakat yang rukun, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi,” tegasnya.

Ada pesan lain yang tidak kalah penting dari kegiatan tersebut.

Desa Pejambon bukan hanya memiliki potensi ekonomi, tetapi juga memiliki kekuatan sosial berupa kerukunan masyarakat lintas agama.

Edi menjelaskan bahwa masyarakat desa hidup berdampingan dengan semangat gotong royong tanpa menjadikan perbedaan agama dan suku sebagai penghalang.

“Kami tidak pernah membahas perbedaan agama maupun suku. Yang kami pikirkan adalah bagaimana hidup berdampingan, rukun, dan bersama-sama mengabdi kepada Tuhan,” tuturnya.

Nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan semangat kolaborasi internasional.

Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai kemanusiaan, toleransi, gotong royong, dan kepercayaan.

Mewakili Ketua STIAB Jinarakkhitta Lampung, Dr. Susanto, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh pihak terhadap kegiatan tersebut.

Menurutnya, kolaborasi internasional tidak boleh berhenti pada pertemuan akademik.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan memberikan pengetahuan serta wawasan internasional kepada kita semua. Terima kasih juga kepada Pemerintah Desa Pejambon yang telah menerima dan mendukung kegiatan ini. Harapan kami, mahasiswa dan masyarakat dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kegiatan ini, memperoleh pengetahuan baru, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan serta pengembangan potensi masyarakat,” ujarnya.

Pesan tersebut mempertegas bahwa keberhasilan sebuah kegiatan internasional bukan hanya dilihat dari siapa yang hadir, tetapi dari apa yang dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh masyarakat.

Salah satu gagasan menarik dari kegiatan ini adalah keberlanjutan pendampingan.

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai peserta.

Mereka dapat mengambil peran sebagai pendamping UMKM.

Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung dari masyarakat, sementara pelaku UMKM mendapatkan pendampingan yang lebih dekat.

Perguruan tinggi pun memperoleh ruang untuk menguji pengetahuan dan inovasi dalam konteks kehidupan nyata.

Model seperti ini dapat dikembangkan menjadi program pendampingan jangka panjang.

Misalnya, Desa Pejambon dapat menjadi laboratorium pembelajaran digital UMKM selama satu tahun dengan tahapan pemetaan kebutuhan, pelatihan, pendampingan, pengembangan produk, penguatan pemasaran, pencatatan keuangan, pengukuran dampak, dan evaluasi.

Jika berhasil, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi model yang dapat direplikasi di desa lain.

Kolaborasi dengan Tongmyong University Korea Selatan memberikan perspektif internasional.

Namun, pengalaman internasional tidak harus diterapkan secara mentah.

Teknologi perlu dilokalkan.

Apa yang cocok untuk perusahaan besar belum tentu sesuai dengan kebutuhan UMKM desa.

Karena itu, AI harus diperkenalkan dengan bahasa yang mudah dipahami, aplikasi yang mudah digunakan, biaya yang terjangkau, serta fokus pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Inilah makna sesungguhnya dari kolaborasi internasional: mempertemukan pengetahuan global dengan kebutuhan lokal.

Di tengah antusiasme terhadap AI, peserta juga perlu memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab.

AI tidak boleh digunakan untuk membuat informasi palsu, menyesatkan konsumen, mengambil karya orang lain tanpa izin, atau mengabaikan keamanan data.

Kejujuran dalam promosi, perlindungan data pelanggan, penghormatan terhadap hak cipta, keamanan transaksi, dan kontrol manusia harus tetap menjadi bagian dari praktik digital.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya melahirkan UMKM yang lebih modern, tetapi juga UMKM yang memiliki integritas.

Kegiatan PKM Internasional di Desa Pejambon menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat pembelajaran.

Pendidikan memberikan pengetahuan. Penelitian menghasilkan inovasi. Pengabdian memastikan pengetahuan dan inovasi memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketiganya bertemu dalam kegiatan ini.

Mahasiswa belajar dari masyarakat.

Dosen menemukan persoalan nyata untuk dikaji.

Masyarakat mendapatkan pengetahuan dan pendampingan.

Mitra internasional memberikan perspektif global.

Sementara perguruan tinggi membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

Inilah wajah kampus yang hadir dan tumbuh bersama masyarakat.

Harapan terbesar dari kegiatan ini bukan sekadar agar pelaku UMKM Desa Pejambon dapat menggunakan beberapa aplikasi AI.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mengubah cara pandang masyarakat terhadap teknologi.

Bahwa AI bukan hanya milik perusahaan besar.

Bahwa teknologi tidak harus ditakuti.

Bahwa masyarakat desa pun dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengelola keuangan, dan membangun usaha yang lebih kompetitif.

Jika pendampingan dilakukan secara konsisten, Desa Pejambon dapat menjadi contoh bahwa transformasi digital dapat dimulai dari komunitas kecil.

Dari satu desa, lahir pengalaman.

Dari pengalaman, lahir model.

Dari model, terbuka peluang untuk direplikasi ke desa lainnya.

Pada akhirnya, PKM Internasional STIAB Jinarakkhitta Lampung dan Tongmyong University memberikan sebuah pelajaran penting: teknologi yang hebat bukanlah teknologi yang hanya mampu melakukan hal-hal luar biasa, melainkan teknologi yang mampu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

AI akan memiliki makna ketika membantu pelaku UMKM menemukan pasar, menyusun promosi, mengelola keuangan, meningkatkan produktivitas, membuka peluang pembiayaan, dan membangun masa depan usaha yang lebih baik.

Dari Desa Pejambon, pesan itu terasa nyata.

Kolaborasi internasional tidak harus selalu dimulai dari gedung-gedung besar. Ia dapat tumbuh dari desa, dari UMKM, dari mahasiswa, dari dosen, dan dari kepedulian untuk menghadirkan teknologi yang benar-benar bermanfaat.

Dari teknologi menuju pemberdayaan.

Dari kolaborasi global menuju dampak lokal.

Dari Desa Pejambon, semangat digitalisasi UMKM dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas. Semoga.

Kolaborasi Global STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University Dorong UMKM

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat dan mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun, pertanyaan yang semakin penting bukan lagi tentang seberapa canggih AI dapat dikembangkan, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu ruh dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan secara hybrid oleh STIAB Jinarakkhitta Lampung bersama Tongmyong University, South Korea, Selasa, 18 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Optimizing Artificial Intelligence for Digital Financial Inclusion and Digital Entrepreneurship“, seminar ini menjadi ruang akademik untuk membahas peluang AI dalam memperluas inklusi keuangan digital sekaligus mendorong lahirnya kewirausahaan digital yang inovatif, produktif, dan bertanggung jawab.

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Ari Warokka, Ph.D., dari Global Business Department, Busan International College (BIC), Tongmyong University, South Korea, sebagai speaker.

Kegiatan diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, peneliti, mitra akademik, serta peserta dari berbagai daerah. Kehadiran mahasiswa internasional dari Gambia dan Filipina turut memberikan warna global dalam forum tersebut.

Seminar juga melibatkan berbagai institusi sebagai Co-Host, yaitu IFMA (International Financial Management Association), Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta, STIB Kertarajasa Malang, STAB Maitreyawira Pekanbaru, STMIK Dharmapala Riau, STAB Bodhi Dharma Medan, dan STAH Lampung.

Keterlibatan berbagai perguruan tinggi dan organisasi tersebut memperlihatkan bahwa isu AI, inklusi keuangan, dan kewirausahaan digital bukan lagi menjadi perhatian satu institusi, tetapi merupakan agenda bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Dalam seminar tersebut, Prof. Ari Warokka, Ph.D. menempatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam perspektif yang lebih luas. AI bukan sekadar teknologi untuk meningkatkan efisiensi, mengolah informasi, mendukung pengambilan keputusan, dan menciptakan inovasi, tetapi harus diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia.

“AI tidak bisa lagi ditinggalkan. Yang terpenting bukan sekadar bagaimana kita menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi ini dimanfaatkan secara bijak untuk menciptakan nilai, memperluas akses, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Ari.

Dalam konteks inklusi keuangan digital, AI dapat dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang mudah, sederhana, terpercaya, dan sesuai kebutuhan. Masyarakat pedesaan, pelaku usaha informal, dan UMKM menjadi kelompok penting yang perlu merasakan manfaat perkembangan teknologi tersebut.

Dalam kewirausahaan digital, AI juga dapat membantu mengembangkan ide, membuat materi promosi, menganalisis pasar, meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, hingga menciptakan inovasi bisnis.

Namun, Prof. Ari menekankan bahwa pemanfaatan AI harus tetap berlandaskan etika, keamanan data, penghormatan terhadap hak cipta, dan tanggung jawab. Teknologi harus menjadi alat yang dikendalikan manusia untuk menciptakan kemanfaatan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya mewakili Kepala STIAB Jinarakkhita Lampung, Ketua Panitia Dr. Hendri Ardianto, M.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya seminar internasional tersebut. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin cepat.

“Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus mampu menjadi inovator, problem solver, dan creator yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Hendri.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan etis. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu menciptakan inovasi dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ini adalah adanya penandatanganan IA (Implementation Agreement) sebagai bentuk implementasi kerja sama akademik.

Pada momentum tersebut, dilakukan penandatanganan IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kerja sama tersebut menjadi langkah konkret untuk menerjemahkan hubungan antarlembaga ke dalam kegiatan yang lebih nyata, khususnya dalam pengembangan akademik, penelitian, publikasi, dan kegiatan lain yang dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Penandatanganan IA juga dilakukan antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma (UBD).

Dengan demikian, seminar internasional tidak hanya menjadi forum untuk mendengarkan pemaparan dan bertukar gagasan, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk membangun fondasi kerja sama yang dapat dilanjutkan dalam berbagai program akademik.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi S3 Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang, serta Dr. Dewi Sartika, S.E., M.Si., Ak., Ketua Program Studi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma.

Kehadiran kedua pimpinan program studi tersebut sekaligus memperlihatkan adanya semangat untuk membangun jejaring akademik yang lebih luas.

Penandatanganan IA (Implementation Agreement) memiliki makna penting karena kerja sama perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada dokumen formal.

Kerja sama akan memiliki nilai ketika diterjemahkan menjadi kegiatan nyata.

Mulai dari penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar dan konferensi, pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dari kegiatan hari itu: kolaborasi bukan sekadar tentang siapa yang menandatangani dokumen, tetapi tentang apa yang dapat dilakukan bersama setelah dokumen tersebut ditandatangani.

Dalam konteks inilah IA antara STIAB Jinarakkhitta Lampung dengan Prodi S3 Manajemen UM Palembang serta Prodi Magister Akuntansi Universitas Bina Darma memiliki arti strategis.

Kolaborasi dapat mempertemukan keunggulan masing-masing institusi sehingga menghasilkan kegiatan yang lebih luas dan berdampak.

Kerja sama dengan Tongmyong University, South Korea, memberikan dimensi internasional dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran Prof. Ari Warokka, Ph.D., sebagai speaker membuka kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan wawasan dari perspektif internasional, terutama mengenai perkembangan bisnis global, teknologi, dan kewirausahaan.

ementara kehadiran mahasiswa dari Gambia dan Filipina memperlihatkan bahwa ruang akademik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif lintas negara.

Inilah kekuatan pendidikan tinggi pada era global.

Kampus tidak lagi dapat berjalan sendiri. Perguruan tinggi perlu membangun jejaring, membuka ruang dialog, dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri.

Seminar internasional ini pada akhirnya menyampaikan sebuah pesan sederhana tetapi penting.

AI tidak seharusnya hanya dipandang sebagai teknologi yang akan menggantikan pekerjaan manusia.

AI justru harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia.

Teknologi dapat membantu masyarakat mengakses informasi, membantu UMKM mengembangkan usaha, membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas, membantu peneliti menemukan pengetahuan baru, dan membantu perguruan tinggi memperluas dampak pengabdiannya.

Oleh karena itu, masa depan AI sangat ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

Apabila AI dikembangkan dengan pengetahuan, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, teknologi tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Seminar Internasional STIAB Jinarakkhitta dan Tongmyong University menjadi salah satu langkah menuju arah tersebut.

Lebih dari sekadar forum akademik, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana gagasan, jejaring, dan kerja sama dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk membangun masa depan pendidikan dan masyarakat yang lebih baik.

Saat ketika seminar berakhir, sesungguhnya pekerjaan baru dimulai: mengubah gagasan menjadi kolaborasi, kolaborasi menjadi implementasi, dan implementasi menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Semoga.

Dari MoA Menuju Aksi, Pascasarjana UM Palembang Perkuat Sinergi

Kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah akan menemukan makna terbaiknya ketika tidak berhenti pada lembar dokumen yang ditandatangani, tetapi berlanjut menjadi kegiatan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Semangat itulah yang terasa dalam pertemuan antara Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang dan Dinas Perindustrian Kota Palembang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Bertempat di Kantor Dinas Perindustrian Kota Palembang, pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) sebagai landasan penguatan kerja sama kedua institusi.

MoA ditandatangani oleh Direktur Pascasarjana UM Palembang, Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., dan Kepala Dinas Perindustrian Kota Palembang, Drs. Ahmad Zazuli, M.Si.

Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan kompetensi, serta penguatan kapasitas kelembagaan dan berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan sektor perindustrian.

Pertemuan menjadi semakin bermakna karena dihadiri jajaran pimpinan Dinas Perindustrian Kota Palembang, mulai dari Sekretaris Dinas, para Kepala Bidang, hingga jajaran lainnya. Kehadiran mereka memperlihatkan adanya perhatian dan kesungguhan untuk membangun kerja sama yang tidak sekadar bersifat seremonial.

Dari unsur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang, Direktur Pascasarjana Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P. hadir bersama jajaran pimpinan Pascasarjana dan program studi. Turut mendampingi Dr. Sri Wardhani, M.Si., Sekretaris Pascasarjana UM Palembang.

 

Hadir pula para pimpinan program studi di lingkungan Pascasarjana UM Palembang, yaitu Dr. Tobari, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Doktor (S3) Manajemen; Dr. Zaleha Trihandayani, S.E., M.Si., Ketua Program Studi Magister Manajemen, bersama Dr. Eni Cahyani, S.E., M.Si., Sekretaris Program Studi Magister Manajemen; Dr. A. Latif Mahfuzh, S.H., M.Kn., Sekretaris Program Studi Magister Hukum; Dr. Marlina Ummas Genisa, S.Si., M.Sc., Ketua Program Studi Magister Pendidikan Biologi; Dr. Dian Kharisma Dewi, S.T., M.T., Ketua Program Studi Magister Teknik Kimia; Dr. Hoirul Amri, M.E.Sy., Sekretaris Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam; Dr. Ir. Erni Hawayanti, M.Si., Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Pertanian; serta Dr. Refi Elfira Yuliani, S.Si., M.Pd., Kepala Unit Penjamin Mutu Program Pascasajana.

Kehadiran hampir seluruh unsur pimpinan program studi tersebut menunjukkan keseriusan Pascasarjana UM Palembang dalam membangun kerja sama yang bersifat lintas disiplin. Kolaborasi dengan Dinas Perindustrian Kota Palembang tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualifikasi akademik pegawai melalui pendidikan magister dan doktor, tetapi juga membuka peluang penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, inovasi pengelolaan industri dan lingkungan, pengembangan UMKM, serta berbagai program peningkatan kompetensi sumber daya manusia

Salah satu bagian penting yang disampaikan Direktur Pascasarjana UM Palembang adalah terbukanya peluang bagi pegawai Dinas Perindustrian Kota Palembang untuk meningkatkan kualifikasi akademik pada jenjang magister maupun doktor.

Menurut Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P.peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur menjadi kebutuhan yang semakin penting di tengah perubahan dunia industri dan kompleksitas persoalan pembangunan.

Ia menegaskan bahwa kerja sama harus membuka ruang nyata bagi pegawai Dinas Perindustrian yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik S2 maupun S3, dengan mekanisme yang memungkinkan tetap selaras dengan tugas kedinasan.

Pendidikan tinggi dalam konteks ini tentu bukan semata-mata untuk menambahkan gelar di belakang nama. Lebih jauh, pendidikan diharapkan memperkuat kemampuan aparatur membaca persoalan, melakukan analisis, menghasilkan inovasi, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan dan kajian ilmiah.

Direktur juga memperkenalkan berbagai program studi yang dimiliki Pascasarjana UM Palembang. Saat ini Pascasarjana UM Palembang memiliki program-program magister pada berbagai bidang dan telah membuka Program Doktor Manajemen sebagai salah satu jenjang akademik tertinggi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, aparatur pemerintah, profesional, maupun akademisi.

Dalam pertemuan tersebut, keberadaan Program Studi Doktor (S3) Manajemen UM Palembang mendapat perhatian khusus dalam pemaparan Direktur Pascasarjana.

Program yang dipimpin Dr. Tobari, S.E., M.Si., tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan Pascasarjana UM Palembang sekaligus membuka akses pendidikan doktoral di bidang manajemen bagi masyarakat Sumatera Selatan dan daerah lainnya.

Program Doktor Manajemen membuka peluang bagi lulusan magister dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan penelitian dalam rumpun ilmu manajemen sesuai bidang keilmuan dan kepakaran promotor.

Bidang penelitian dapat diarahkan pada manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, pemasaran, strategi, kepemimpinan, inovasi organisasi, transformasi digital, pengembangan UMKM, kebijakan organisasi, maupun berbagai persoalan manajemen lainnya. 

Bagi aparatur pemerintah, pendidikan doktoral dapat menjadi ruang yang sangat strategis untuk mengangkat persoalan nyata di tempat kerja menjadi penelitian ilmiah.

Permasalahan pengembangan industri kecil, peningkatan produktivitas UMKM, strategi pemasaran, pengembangan sumber daya manusia, kepemimpinan, transformasi digital, inovasi organisasi, tata kelola, hingga kebijakan pengembangan industri daerah dapat dikembangkan menjadi kajian akademik yang memiliki manfaat praktis.

Dengan demikian, disertasi tidak harus jauh dari kehidupan profesional seseorang. Pengalaman kerja justru dapat menjadi sumber persoalan penelitian yang kuat apabila dibingkai dengan teori, metodologi, dan analisis yang tepat.

Inilah salah satu makna strategis diperkenalkannya S3 Manajemen UM Palembang dalam forum tersebut: pendidikan doktor bukan ruang yang terpisah dari dunia kerja, tetapi dapat menjadi laboratorium pemecahan masalah nyata organisasi dan masyarakat.

Menariknya, pertemuan tidak hanya berbicara mengenai pendidikan.

Diskusi berkembang pada berbagai persoalan konkret yang dihadapi masyarakat dan sektor industri, termasuk pengelolaan sampah dan limbah, industri tahu-tempe, pencemaran dan aroma limbah, bank sampah, pemanfaatan teknologi pengolahan, hingga potensi budidaya maggot.

Dalam dialog tersebut mengemuka satu gagasan penting bahwa kebijakan pemerintah tidak cukup hanya berhenti pada larangan. Masyarakat juga membutuhkan solusi.

Ketika masyarakat dilarang membakar sampah, misalnya, harus ada alternatif yang dapat dilakukan. Demikian pula ketika aktivitas usaha harus ditertibkan, pendekatan yang digunakan sebaiknya tidak semata-mata melarang, tetapi juga memberikan jalan keluar dan pembinaan.

Cara pandang tersebut membuka ruang yang sangat luas bagi perguruan tinggi.

Di sinilah penelitian dosen dan mahasiswa dapat bertemu dengan persoalan riil pemerintah dan masyarakat.

Direktur Pascasarjana juga mencontohkan kemungkinan keterlibatan dosen dari bidang Teknik Kimia, pertanian, biologi, manajemen, dan bidang lainnya untuk mengembangkan penelitian dan pengabdian mengenai limbah, pangan lokal, teknologi pengolahan, produk tradisional, UMKM, hingga peningkatan nilai ekonomi produk masyarakat.

Pengelolaan sampah, misalnya, dapat dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan lingkungan, tetapi juga sebagai kegiatan ekonomi.

Bank sampah, pemanfaatan limbah organik, budidaya maggot, hingga inovasi produk berbasis limbah merupakan contoh kegiatan yang memungkinkan dikembangkan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Pertemuan tersebut juga mengangkat pentingnya penelitian yang memiliki kebermanfaatan langsung.

Pascasarjana UM Palembang memiliki potensi besar untuk mengembangkan penelitian bersama dengan Dinas Perindustrian, khususnya mengenai pangan lokal, produk tradisional, pengolahan limbah, inovasi industri, serta berbagai sumber daya khas Sumatera Selatan.

Hasil penelitian tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai laporan, artikel ilmiah, atau publikasi akademik.

Hasil penelitian perlu dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian, pelatihan, pendampingan, dan inovasi yang dapat meningkatkan kualitas maupun nilai ekonomi suatu produk.

Jika suatu daerah memiliki potensi ikan, misalnya, perguruan tinggi dapat membantu mengembangkan inovasi produk olahan. Jika terdapat sentra tahu atau tempe, penelitian dapat diarahkan pada pengelolaan limbahnya. Jika terdapat UMKM pangan tradisional, kolaborasi dapat diarahkan pada peningkatan mutu, inovasi produk, kemasan, pemasaran, dan manajemennya.

Di titik inilah pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat bertemu dalam satu rangkaian yang utuh.

Salah satu pesan paling kuat yang disampaikan Direktur Pascasarjana dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya tindak lanjut setelah penandatanganan MoA.

“Harapan utama kami, kerja sama melalui MoA ini jangan berhenti hanya pada penandatanganan dokumen. Yang jauh lebih penting adalah adanya tindak lanjut dalam bentuk kegiatan nyata.”

Pesan tersebut sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi tantangan bagi banyak kerja sama kelembagaan.

MoA tidak seharusnya menjadi dokumen yang selesai setelah ditandatangani dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Ia harus berubah menjadi mahasiswa yang dapat melanjutkan pendidikan.

Ia harus berubah menjadi penelitian bersama yang menghasilkan solusi.

Ia harus melahirkan pertukaran pengalaman antara akademisi, pemerintah, dan praktisi.

Ia harus menghadirkan UMKM yang mendapat pendampingan, limbah yang memperoleh alternatif pengelolaan, masyarakat yang mendapatkan pengetahuan baru, serta kebijakan yang semakin kuat karena didukung kajian akademik.

Kepala Dinas Perindustrian Kota Palembang juga menekankan bahwa tantangan sesungguhnya setelah kerja sama ditandatangani adalah bagaimana kesepakatan tersebut dapat diterjemahkan menjadi program-program yang konkret dan bermanfaat.

Dalam konteks peningkatan sumber daya manusia, peluang pendidikan magister dan doktor juga menjadi bagian yang dinilai penting. Peningkatan kualifikasi akademik diharapkan dapat memperkuat kompetensi pegawai dalam melaksanakan tugas, membuat kebijakan, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, pertemuan 11 Agustus 2026 tersebut bukan hanya mempertemukan dua institusi.

Ia mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan lapangan.

Pemerintah memiliki data, pengalaman, kewenangan, dan berbagai persoalan yang harus diselesaikan. Perguruan tinggi memiliki teori, metodologi penelitian, tenaga ahli, mahasiswa, serta kemampuan melakukan kajian.

Ketika keduanya berjalan sendiri-sendiri, potensi tersebut belum tentu menghasilkan dampak maksimal.

Namun ketika dipertemukan melalui kerja sama yang sehat dan berkelanjutan, peluang menghasilkan perubahan menjadi jauh lebih besar.

Bagi Pascasarjana UM Palembang, kerja sama ini sekaligus menjadi momentum memperluas kebermanfaatan seluruh program studi yang dimiliki, termasuk Program Doktor Manajemen yang baru dikembangkan.

Bagi Dinas Perindustrian Kota Palembang, kerja sama membuka ruang peningkatan kompetensi aparatur sekaligus akses terhadap berbagai sumber daya akademik untuk membantu menjawab persoalan pembangunan industri.

Dan bagi masyarakat, inilah yang paling penting: kerja sama diharapkan pada akhirnya menghadirkan manfaat nyata.

Karena ukuran keberhasilan MoA bukanlah seberapa indah dokumen itu disimpan, melainkan berapa banyak gagasan yang berubah menjadi aksi, berapa banyak ilmu yang berubah menjadi solusi, dan berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Semoga penandatanganan MoA antara Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang dan Dinas Perindustrian Kota Palembang ini benar-benar menjadi awal dari kerja bersama yang produktif—dari pendidikan menuju peningkatan kompetensi, dari penelitian menuju inovasi, dari pengalaman lapangan menuju ilmu pengetahuan, dan dari kampus menuju pengabdian yang semakin memberi manfaat bagi Kota Palembang, Sumatera Selatan, dan masyarakat luas.

*Dosen Pascasarjana/Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang. Penulis lebih dari 392 artikel dan 30 judul buku. Penulis dan editor Majalah INKUIRI LLDikti Wilayah II.

Ketika Ilmu dan Dakwah Membuka Harapan dari Balik Jeruji

Sebuah tanda tangan kadang hanya terlihat sebagai bagian dari urusan administrasi. Namun, ketika tanda tangan itu mempertemukan perguruan tinggi, organisasi dakwah, dan lembaga pemasyarakatan dalam satu ikhtiar kemanusiaan, maknanya menjadi jauh lebih besar.

Harapan itulah yang terasa dalam penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, dan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 4 Agustus 2026, di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang.

MoU ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H., dan Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement atau MoA yang melibatkan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, M.P., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah Dr. Idmar Wijaya, M.Hum., para Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Selatan, serta para Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Sumatera Selatan.

Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. H. M. Idris, S.E., M.Si., Wakil Rektor I Dr. Saleh Hidayat, M.Si., Wakil Rektor III Dr. Eko Ariyanto, S.T., M.Chem. Eng, Dekan Fakultas Agama Islam Dr. Purmansyah Ariadi, S.Ag., M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Abdul Hamid Usman, S.H., M.Hum., para ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, pengurus Muhammadiyah, serta jajaran pemasyarakatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama ini bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan awal dari gerakan bersama untuk menghadirkan pembinaan yang lebih humanis, terarah, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh membatasi perannya hanya di ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan.

 

Sebagai perguruan tinggi yang mengusung semangat unggul dan Islami, Universitas Muhammadiyah Palembang memiliki tanggung jawab moral untuk mengimplementasikan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian tersebut harus bersifat inklusif. Artinya, perguruan tinggi harus hadir untuk seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.

Warga binaan tetap merupakan bagian dari masyarakat. Mereka membutuhkan perhatian, pendidikan, pendampingan, keterampilan, serta ruang untuk memperbaiki diri.

Oleh karena itu, kerja sama ini tidak hanya diarahkan pada pembinaan keagamaan. Ruang kolaborasi juga terbuka melalui penyuluhan hukum, pendidikan keterampilan, penelitian bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan lingkungan, kewirausahaan, serta berbagai program pemberdayaan lainnya.

Fakultas Agama Islam dapat berkontribusi melalui pembinaan rohani, penguatan akhlak, pembelajaran Al-Qur’an, serta pendampingan ibadah.

Fakultas Hukum dapat berperan dalam pendidikan kesadaran hukum, pemahaman hak dan kewajiban warga binaan, serta berbagai bentuk penyuluhan hukum.

Program Pascasarjana dan program studi lainnya juga dapat mengembangkan penelitian dan pengabdian dalam bidang manajemen, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, dan reintegrasi sosial.

Dalam kerangka inilah ilmu pengetahuan menemukan maknanya. Ilmu tidak hanya ditulis dalam jurnal atau dibicarakan dalam seminar, tetapi hadir menyelesaikan persoalan nyata yang dialami manusia.

Program Pascasarjana dan program studi lainnya juga dapat mengembangkan penelitian dan pengabdian dalam bidang manajemen, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, dan reintegrasi sosial.

Dalam kerangka inilah ilmu pengetahuan menemukan maknanya. Ilmu tidak hanya ditulis dalam jurnal atau dibicarakan dalam seminar, tetapi hadir menyelesaikan persoalan nyata yang dialami manusia.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Ridwan Hayatuddin, S.H., M.H., menempatkan kerja sama ini sebagai bagian dari dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan dan menjangkau semua lapisan masyarakat.

Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan Islam yang bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan. Karena itu, kehadiran Muhammadiyah di lingkungan pemasyarakatan bukanlah sesuatu yang terpisah dari misi gerakan.

Melalui Lembaga Dakwah Komunitas, Muhammadiyah akan mendorong keterlibatan mubalig, dosen, mahasiswa, dan kader-kadernya untuk memberikan pembinaan keislaman secara terstruktur dan berkelanjutan.

Pembinaan tersebut dapat berupa pengajian, pembelajaran membaca Al-Qur’an, penguatan akidah, pendampingan ibadah, pembinaan akhlak, serta penguatan motivasi untuk berubah.

Namun, dakwah di lingkungan pemasyarakatan tidak boleh hadir dengan cara menghakimi masa lalu seseorang. Dakwah harus datang sebagai sahabat yang merangkul, mendampingi, dan menuntun.

Warga binaan mungkin pernah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tidak seharusnya menutup seluruh jalan menuju perubahan.

Setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki perilaku, dan membangun kembali kehidupannya.

Karena itu, pesan utama dakwah di lembaga pemasyarakatan bukanlah memperbesar rasa bersalah, melainkan menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ridwan Hayatuddin juga memberikan landasan spiritual bahwa manusia sejak awal penciptaannya merupakan makhluk yang saling membutuhkan.

Manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan hubungan dengan Allah atau hablum minallah, sekaligus hubungan yang baik dengan sesama manusia atau hablum minannas.

Kerja sama ini merupakan wujud nyata dari hubungan sosial tersebut. Perguruan tinggi membawa ilmu, Muhammadiyah membawa dakwah, dan jajaran pemasyarakatan menyediakan ruang pembinaan.

Ketiganya bertemu dalam tujuan yang sama, yaitu memulihkan manusia.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., menjelaskan bahwa paradigma pemasyarakatan telah berubah.

Pada masa lalu, penjara lebih sering dipahami sebagai tempat penghukuman, pembalasan, dan pengasingan seseorang dari masyarakat.

Namun, sistem pemasyarakatan saat ini menempatkan warga binaan sebagai subjek pembinaan.

Mereka bukan hanya orang yang sedang menjalani hukuman, tetapi manusia yang harus dipersiapkan agar mampu kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Pembinaan warga binaan meliputi dua aspek utama, yaitu pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.

Pembinaan kepribadian berkaitan dengan mental, moral, keagamaan, kesadaran hukum, disiplin, dan perubahan perilaku.

Sementara itu, pembinaan kemandirian berkaitan dengan keterampilan kerja, kewirausahaan, pertanian, ketahanan pangan, pengolahan hasil usaha, menjahit, kerajinan, serta berbagai kemampuan produktif lainnya.

Kedua bentuk pembinaan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara maksimal hanya oleh petugas pemasyarakatan. Diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi keagamaan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Oleh karena itulah kerja sama dengan PWM Sumatera Selatan dan Universitas Muhammadiyah Palembang menjadi sangat penting.

Pendekatan hukum dan kedisiplinan tetap diperlukan. Namun, pendekatan tersebut harus diimbangi dengan pembinaan mental, moral, spiritual, dan keterampilan.

Seseorang yang keluar dari lembaga pemasyarakatan tanpa bekal keterampilan dan tanpa perubahan karakter akan menghadapi tantangan besar ketika kembali ke masyarakat.

Sebaliknya, seseorang yang dibekali pengetahuan, keimanan, keterampilan, dan kepercayaan diri memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehidupan secara produktif dan tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.

Dalam kuliah umum yang disampaikannya, Yulius Sahruzah mengemukakan satu pemikiran yang sederhana tetapi mendalam. Ia berharap bekerja di lingkungan pemasyarakatan dapat menghasilkan dua bentuk “gaji”.

Gaji pertama adalah penghasilan sebagai aparatur negara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Gaji kedua adalah pahala dan amal kebaikan sebagai bekal kehidupan akhirat.

Pemikiran tersebut mengingatkan bahwa pekerjaan bukan hanya tentang jabatan dan materi. Nilai tertinggi dari sebuah pekerjaan justru terletak pada manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Ketika seorang warga binaan mampu berubah, kembali kepada keluarganya, memperoleh pekerjaan, dan menjalani kehidupan secara baik, di sanalah terdapat nilai kemanusiaan dan amal yang tidak dapat diukur hanya dengan angka.

Tantangan terbesar setelah penandatanganan MoU dan MoA adalah memastikan dokumen tersebut tidak berhenti sebagai arsip.

Kerja sama harus diterjemahkan menjadi program nyata, jadwal pelaksanaan, penanggung jawab, pembagian peran, serta evaluasi yang terukur.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah dapat berkoordinasi langsung dengan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di wilayah masing-masing.

Fakultas dan program studi dapat menyusun kegiatan sesuai dengan bidang keilmuannya.

Mahasiswa dapat memperoleh ruang untuk melakukan magang, penelitian, praktik lapangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Para dosen dapat mengembangkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberi jawaban atas persoalan nyata di lingkungan pemasyarakatan.

Program kerja sama dapat diarahkan pada pembinaan keagamaan, pendidikan hukum, pengelolaan sampah, pengolahan air bersih, ketahanan pangan, kewirausahaan, pemasaran produk warga binaan, kesehatan, psikologi, serta peningkatan kompetensi pegawai pemasyarakatan.

Dengan pola seperti itu, semua pihak memperoleh manfaat.

Perguruan tinggi memperoleh ruang untuk mengimplementasikan Catur Dharma. Muhammadiyah dapat memperluas dakwah komunitas. Jajaran pemasyarakatan memperoleh dukungan ilmu dan sumber daya manusia. Warga binaan memperoleh pengetahuan, keterampilan, pendampingan, serta harapan.

Pada akhirnya, kegiatan di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang ini menyampaikan satu pesan penting: tidak ada manusia yang seharusnya kehilangan kesempatan untuk berubah.

Di balik jeruji mungkin ada seseorang yang sedang menyesali perbuatannya. Ada yang merindukan keluarga. Ada pula yang sedang berusaha menemukan kembali arah hidupnya.

Mereka tidak hanya membutuhkan hukuman. Mereka membutuhkan tuntunan, pendidikan, keterampilan, kepercayaan, dan kesempatan untuk pulang sebagai manusia yang lebih baik.

Ketika ilmu, dakwah, dan pembinaan berjalan bersama, lembaga pemasyarakatan tidak lagi hanya menjadi tempat seseorang menjalani hukuman. Ia dapat menjadi ruang lahirnya kesadaran, perubahan, dan harapan baru.

Semoga kerja sama ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar tumbuh menjadi pengabdian yang bernilai ibadah dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat Sumatera Selatan.

*Dosen Pascasarjana/Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang. Penulis lebih dari 390 artikel dan 30 judul buku. Penulis dan editor Majalah INKUIRI LLDikti Wilayah II.

Menembus Batas Global, Menguatkan Jejak Akademik UM Palembang

Tidak semua kegiatan akademik berakhir ketika moderator menutup acara dan para peserta meninggalkan ruangan.

Ada kalanya sebuah kegiatan ilmiah justru menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan baru, memperluas cara pandang, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa mimpi yang selama ini terasa jauh ternyata dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar.

Suasana itulah yang terasa ketika mengikuti workshop internasional bertajuk “Breaking Global Barriers: Strategic Manuscript Positioning and AI-Driven Execution for High-Impact Publication” yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Palembang di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7, Senin, 3 Agustus 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ari Warokka, Ph.D., Professor of Finance and Global Business dari Tongmyong University, Republik Korea, sebagai narasumber utama.

Seminar ini dihadiri oleh Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang; Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., selaku Wakil Rektor II; Dr. Eko Ariyanto, M.Chem.Eng., selaku Wakil Rektor III; Dr. Yudha Mahrom DS, S.E., M.Si., selaku Dekan FEB; Dr. Maftuhah Nurrahmi, S.E., M.Si., selaku Wakil Dekan I FEB; Dr. Tobari, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Doktor (S3) Manajemen; Prof. Dr. Faizal Daud Badariddin, M.S., selaku Sekretaris Program Studi Doktor (S3) Manajemen; Dr. Betri Sirajuddin, S.E., M.Si., Ak., C.A., CTT., selaku Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang juga bertindak sebagai moderator, serta diikuti oleh dosen, pascasarjana, dan para ketua dan sekretaris program studi.

Kehadiran para pimpinan universitas dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi bukan lagi sekadar wacana, melainkan komitmen yang terus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata.

Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin terbuka, membangun jejaring internasional telah menjadi kebutuhan strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Ari Warokka merupakan bagian dari ikhtiar Universitas Muhammadiyah Palembang dalam memperluas jejaring akademik internasional.

Sebagai perguruan tinggi yang telah meraih Akreditasi Unggul, universitas memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi, memperkuat budaya riset, memperluas kolaborasi global, dan menghasilkan karya ilmiah yang memberi manfaat nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Beliau juga menegaskan bahwa tantangan perguruan tinggi dewasa ini bukan hanya menghasilkan penelitian yang baik, tetapi bagaimana hasil penelitian tersebut mampu dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi sehingga menjadi bagian dari percakapan ilmiah dunia.

Oleh karena itu, kerja sama dengan Tongmyong University diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya berbagai penelitian bersama, publikasi kolaboratif, program visiting professor, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan kurikulum yang semakin berorientasi global.

Pesan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Reputasi sebuah universitas sesungguhnya tidak dibangun semata-mata oleh megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa, melainkan oleh kualitas ilmu pengetahuan yang dihasilkan, integritas akademik yang dijaga, dan kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.

Kampus akan semakin dihormati ketika mampu melahirkan penelitian yang dipercaya, dimanfaatkan, dan menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah di berbagai negara.

Momentum penting lainnya dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Implementation Agreement antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang dan Prodi-Prodinya dengan Tongmyong University, sekaligus penandatanganan kerja sama antara Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang dengan Tongmyong University.

Banyak orang memandang penandatanganan kerja sama sebagai agenda seremonial. Namun, dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Di balik setiap dokumen yang ditandatangani tersimpan sebuah amanah untuk mewujudkan berbagai program nyata.

Kerja sama baru akan memiliki makna apabila benar-benar diterjemahkan menjadi penelitian bersama, publikasi ilmiah kolaboratif, pertukaran pengalaman akademik, pendampingan penulisan artikel internasional, serta peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa secara berkelanjutan.

Terlebih bagi Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang yang baru akan dimulai, kolaborasi internasional merupakan investasi akademik yang sangat berharga.

Program doktor tidak cukup hanya menyelenggarakan perkuliahan, tetapi harus menjadi ruang lahirnya pemikiran-pemikiran baru, riset yang berkualitas, serta karya ilmiah yang mampu menjawab berbagai persoalan organisasi, dunia usaha, pemerintahan, dan pembangunan bangsa.

Workshop internasional hari ini kemudian membawa seluruh peserta memasuki sesi yang mungkin akan terus dikenang.

Melalui pengalaman panjangnya sebagai akademisi internasional dan editor berbagai jurnal bereputasi, Prof. Ari Warokka tidak hanya menjelaskan bagaimana sebuah artikel ilmiah ditulis, tetapi juga mengubah cara pandang peserta workshop terhadap publikasi internasional.  Apa yang selama ini tampak sulit perlahan terasa lebih mungkin untuk diwujudkan.

Dari sinilah terasa bahwa seminar tersebut bukan sekadar forum berbagi ilmu, melainkan awal tumbuhnya optimisme baru bagi para dosen Indonesia untuk melangkah lebih percaya diri menuju panggung akademik dunia.

Apa yang disampaikan Prof. Ari Warokka pada sesi berikutnya benar-benar membuka cakrawala berpikir para peserta.

Selama hampir seluruh sesi berlangsung, waktu terasa berjalan begitu cepat. Bukan karena materi yang disampaikan terlalu banyak, melainkan karena setiap penjelasan menghadirkan perspektif baru mengenai dunia publikasi ilmiah internasional yang selama ini mungkin belum sepenuhnya dipahami oleh banyak dosen dan peneliti.

Selama ini tidak sedikit akademisi yang memandang publikasi pada jurnal bereputasi internasional, khususnya yang terindeks Scopus, sebagai sesuatu yang sangat sulit dicapai.

Tidak jarang muncul anggapan bahwa jurnal-jurnal tersebut hanya dapat ditembus oleh peneliti dari universitas-universitas besar dunia yang memiliki fasilitas penelitian sangat lengkap.

Melalui pemaparannya, Prof. Ari justru memperlihatkan sudut pandang yang berbeda.

Beliau menjelaskan bahwa peluang untuk mempublikasikan artikel pada jurnal bereputasi sesungguhnya terbuka bagi siapa saja yang mampu memahami arah perkembangan penelitian global, memilih persoalan penelitian yang relevan, menyusun manuskrip dengan kontribusi ilmiah yang jelas, serta mengikuti standar yang diharapkan oleh editor dan reviewer.

Dengan kata lain, yang dinilai bukan semata asal institusi penulis, tetapi kualitas gagasan, kebaruan penelitian, ketepatan metodologi, dan kemampuan menunjukkan manfaat ilmiah dari hasil penelitian tersebut.

Salah satu pesan yang paling teringat adalah pentingnya melihat penelitian bukan hanya dari sudut persoalan lokal, tetapi juga dari perspektif global.

Sebuah penelitian akan memiliki peluang lebih besar untuk diterima apabila mampu menjawab isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat ilmiah internasional, tanpa kehilangan relevansinya terhadap kondisi yang dihadapi di Indonesia.

Di sinilah kemampuan memosisikan manuskrip (strategic manuscript positioning) menjadi sangat menentukan.

Materi tersebut juga memberikan pemahaman bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses penelitian dan penulisan artikel ilmiah.

AI bukanlah pengganti pemikiran peneliti, melainkan alat yang membantu mempercepat penelusuran literatur, mengelola informasi, menyempurnakan struktur penulisan, serta meningkatkan efisiensi proses penyusunan manuskrip.

Integritas akademik, orisinalitas gagasan, dan kejujuran ilmiah tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan.

Yang lebih menggembirakan lagi, Prof. Ari tidak berhenti pada penyampaian teori.

Beliau menyampaikan kesiapan untuk membuka ruang kolaborasi akademik bersama Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai tindak lanjut dari Implementation Agreement yang baru saja ditandatangani.

Kesempatan tersebut menjadi harapan besar bagi para dosen untuk membangun penelitian bersama lintas negara, saling bertukar pengalaman akademik, mengembangkan tema-tema penelitian yang memiliki daya saing global, hingga menghasilkan publikasi bersama pada jurnal internasional bereputasi.

Sesungguhnya, inilah makna dari kerja sama internasional.

Kolaborasi bukan hanya mempertemukan dua institusi dalam satu dokumen, tetapi mempertemukan gagasan, pengalaman, budaya akademik, dan semangat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang lebih berkualitas.

Ketika peneliti Indonesia dan Korea Selatan duduk bersama merumuskan persoalan, berbagi data, mendiskusikan metodologi, dan menulis artikel secara kolaboratif, maka penelitian yang dihasilkan akan memiliki perspektif yang lebih luas serta kontribusi yang lebih kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Harapan tersebut tentu menjadi energi baru bagi Universitas Muhammadiyah Palembang, khususnya Program Studi Doktor (S3) Manajemen.

Program doktor membutuhkan lingkungan akademik yang dinamis, jejaring internasional yang luas, serta budaya penelitian yang terus berkembang.

Kerja sama seperti ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas penelitian dosen dan mahasiswa, memperluas publikasi internasional, serta memperkuat reputasi akademik universitas di tingkat global.

Namun demikian, keberhasilan kerja sama tidak akan diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani ataupun jumlah foto yang diabadikan.

Nilai sesungguhnya baru akan terlihat ketika lahir penelitian bersama, artikel yang diterbitkan pada jurnal bereputasi, mahasiswa yang memperoleh pengalaman akademik internasional, dosen yang saling bertukar keahlian, dan hasil penelitian yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Workshop ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan publikasi internasional tidak pernah lahir secara instan.

Di balik setiap artikel yang berhasil diterbitkan terdapat proses panjang membaca, meneliti, berdiskusi, menulis, menerima kritik dari reviewer, melakukan revisi berkali-kali, bahkan menghadapi penolakan.

Namun setiap proses tersebut sesungguhnya adalah bagian dari pembelajaran yang membentuk kedewasaan seorang akademisi.

Penolakan bukanlah akhir perjalanan, melainkan langkah untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Workshop internasional ini bukan sekadar menambah pengetahuan tentang teknik menulis artikel ilmiah, tetapi juga membangun keyakinan bahwa dosen-dosen Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada panggung akademik dunia.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk terus belajar, kemauan membuka diri terhadap kolaborasi internasional, serta komitmen menjaga kualitas dan integritas dalam setiap penelitian yang dilakukan.

Pada akhirnya, dapat disadari bahwa menembus batas global sesungguhnya tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar.

Ia dapat berawal dari satu ruang workshop atau seminar, satu pertemuan ilmiah, satu manuskrip yang ditulis dengan sungguh-sungguh, dan satu kolaborasi yang dibangun atas dasar saling percaya.

Dari langkah-langkah kecil itulah lahir karya-karya besar yang mampu memberi manfaat melampaui batas negara.

Semoga workshop internasional dan penandatanganan Implementation Agreement ini menjadi titik awal lahirnya lebih banyak penelitian kolaboratif, publikasi bereputasi internasional, serta jejaring akademik yang semakin kuat antara Universitas Muhammadiyah Palembang dan Tongmyong University.

Lebih dari itu, semoga semangat yang tumbuh pada hari ini mampu menginspirasi para dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk terus berkarya, karena sesungguhnya ilmu pengetahuan akan menemukan kemuliaannya ketika dibagikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat manusia.

*Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Ketua Program Studi Doktor (S3) Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang. Penulis lebih dari 389 artikel dan 30 judul buku, serta Editor Majalah INKUIRI LLDIKTI Wilayah II.

Pengabdian melalui Literasi Digital, UM Palembang Bekali Tenaga Kependidikan Menulis Berita Bermakna

Oleh: Tobari*

Pengabdian kepada masyarakat pada hakikatnya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pemberian bantuan fisik, tetapi juga dapat dilakukan dengan membagikan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang memberikan manfaat berkelanjutan.

Dalam lingkungan perguruan tinggi, penguatan kapasitas masyarakat kampus menjadi salah satu bentuk pengabdian yang penting, terutama ketika kemampuan yang diberikan dapat digunakan untuk memperluas penyebaran informasi pendidikan kepada masyarakat.

Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pelatihan Penulisan Berita Kegiatan Program Studi dan Fakultas di Media Massa yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Palembang pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 09.00–11.00 WIB.

Kegiatan berlangsung di Aula Lantai 7 Gedung KH. Faqih Usman, Kampus A Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pelatihan diikuti oleh 25 tenaga kependidikan yang berasal dari berbagai program studi, fakultas, dan unit kerja di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang.

 

 

Para peserta merupakan bagian penting dalam pengelolaan administrasi, dokumentasi, pelayanan informasi, dan penyebarluasan kegiatan institusi.

Oleh karena itu, peningkatan kemampuan menulis berita menjadi kebutuhan yang berkaitan langsung dengan profesionalisme serta kualitas pelayanan informasi kepada masyarakat.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui koordinasi bidang sumber daya manusia, kerja sama, dan internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Palembang.

Panitia kegiatan terdiri atas Dr. Eko Ariyanto, S.T., M.Chem.Eng., selaku Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Kerja Sama, dan Internasionalisasi; Afandi, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Biro Sumber Daya Manusia Universitas Muhammadiyah Palembang; serta Dr. Bagas Rasid Sidik, M.Pd., yang bertugas memandu jalannya kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tobari, S.E., M.Si., C.Ed., C.EML., Ketua Prodi Program Doktor Manajemen UMPalembang sekaligus dosen Pascasarjana dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Palembang, hadir sebagai narasumber.

Materi yang disampaikan berfokus pada keterampilan menulis berita kegiatan program studi dan fakultas sesuai dengan kaidah jurnalistik, kebutuhan publikasi media massa, serta karakter komunikasi institusi pendidikan.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kependidikan dalam mendokumentasikan serta memublikasikan berbagai aktivitas kampus.

Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap aktivitas akademik, kemahasiswaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, inovasi, dan prestasi memiliki nilai informasi yang perlu disampaikan kepada publik.

Selama ini, banyak kegiatan positif telah dilaksanakan oleh program studi, fakultas, maupun unit kerja. Namun, tidak seluruh kegiatan tersebut terdokumentasi dan terpublikasi secara optimal.

Akibatnya, berbagai kontribusi, inovasi, dan prestasi yang sebenarnya membanggakan belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat luas.

Melalui pelatihan ini, peserta diberikan pemahaman bahwa menulis berita bukan sekadar mencatat urutan acara.

Berita harus mampu menjawab unsur apa yang dilaksanakan, siapa yang terlibat, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, mengapa kegiatan itu penting, serta bagaimana manfaatnya bagi peserta, institusi, dan masyarakat.

 

Sebuah berita kegiatan akan kehilangan kekuatannya apabila hanya memuat nama pejabat, susunan acara, dan dokumentasi seremonial.

Berita yang baik perlu menghadirkan makna, menjelaskan tujuan, menggambarkan proses, serta memperlihatkan perubahan atau manfaat yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.

Dalam arahannya, Dr. Eko Ariyanto menyampaikan bahwa kemampuan menulis dan memublikasikan kegiatan memiliki hubungan erat dengan reputasi digital perguruan tinggi.

Publikasi yang dilakukan secara aktif, konsisten, dan berkualitas akan memperkuat jejak digital Universitas Muhammadiyah Palembang pada mesin pencari serta mendukung peningkatan keterlihatan institusi dalam pemeringkatan digital, termasuk Webometrics.

Semakin banyak informasi positif, kredibel, dan relevan yang terindeks di ruang digital, semakin besar pula peluang universitas untuk dikenal masyarakat.

Publikasi tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi calon mahasiswa, orang tua, mitra kerja sama, lembaga pemerintah, dunia usaha, dunia industri, alumni, serta masyarakat akademik pada tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai narasumber, Dr. Tobari memberikan penguatan mengenai struktur dasar penulisan berita, penentuan sudut pandang, penyusunan judul, pembuatan teras berita, pengembangan isi, penggunaan kutipan narasumber, pemilihan foto, serta pentingnya melakukan pemeriksaan ulang sebelum tulisan dipublikasikan.

Peserta juga diarahkan untuk menggunakan bahasa yang komunikatif, jelas, faktual, dan mudah dipahami.

Penggunaan istilah yang terlalu teknis perlu disesuaikan agar berita kampus tidak hanya dapat dibaca oleh kalangan akademik, tetapi juga dapat dipahami oleh masyarakat umum.

Selain keterampilan teknis, pelatihan menekankan pentingnya etika publikasi. Nama, gelar, jabatan, waktu, tempat, data, dan pernyataan narasumber harus diperiksa kebenarannya.

Kesalahan dalam menyampaikan informasi bukan hanya dapat mengurangi kualitas tulisan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi.

Kegiatan dilaksanakan melalui metode penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, pemberian contoh, serta praktik menulis berita.

Setelah memperoleh penjelasan, para peserta diminta menyusun berita berdasarkan kegiatan yang berlangsung di unit kerjanya masing-masing.

Praktik tersebut bertujuan agar peserta tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung.

Pendekatan praktik menjadi bagian penting karena kemampuan menulis tidak cukup dibangun hanya dengan mendengarkan materi.

Keterampilan tersebut harus tumbuh melalui latihan, keberanian memulai, kesediaan menerima koreksi, dan konsistensi dalam menghasilkan tulisan.

Bagi tenaga kependidikan, kemampuan mengelola informasi merupakan bagian dari profesionalisme kerja di era digital.

Mereka bukan hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga dapat berperan sebagai penghubung antara aktivitas institusi dan kebutuhan informasi masyarakat.

Setiap unit kerja diharapkan memiliki personel yang mampu mendokumentasikan kegiatan dan mengolahnya menjadi berita yang layak dipublikasikan.

Dari perspektif pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini memberikan manfaat berupa peningkatan literasi digital, kemampuan komunikasi publik, dan keterampilan jurnalistik bagi komunitas pendidikan.

Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi diterapkan secara berkelanjutan untuk menyebarluaskan informasi yang mendidik, mencerahkan, dan menginspirasi.

Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya jumlah dan kualitas berita yang dihasilkan oleh program studi, fakultas, dan unit kerja.

Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak publikasi di lingkungan kerjanya masing-masing serta membangun jejaring komunikasi yang mempercepat penyebaran informasi institusi.

Kegiatan ini juga dapat menjadi langkah awal pembentukan budaya menulis di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palembang.

Budaya publikasi tidak akan tumbuh hanya melalui instruksi, tetapi perlu dibangun melalui pelatihan, pendampingan, pemberian ruang untuk berkarya, dan penghargaan terhadap setiap tulisan yang dihasilkan.

Pada akhirnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya melaksanakan kegiatan yang baik. Perguruan tinggi juga perlu menyampaikan kebaikan tersebut kepada masyarakat secara jujur, tepat, menarik, dan bermakna.

Kegiatan yang tidak didokumentasikan dapat dengan mudah terlupakan, sedangkan kegiatan yang ditulis dengan baik dapat menjadi pengetahuan, bukti kontribusi, sumber inspirasi, dan rekam jejak institusi.

Dari ruang pelatihan di Aula Lantai 7 Gedung KH. Faqih Usman, tumbuh sebuah harapan bahwa 25 peserta yang telah memperoleh pembekalan dapat menjadi penggerak lahirnya berbagai berita positif dari setiap unit kerja.

Mereka diharapkan mampu mengangkat prestasi, inovasi, kerja sama, penelitian, dan pengabdian Universitas Muhammadiyah Palembang agar semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menulis berita dengan demikian bukan hanya pekerjaan menyusun kata-kata. Menulis adalah cara merawat ingatan, menyebarluaskan pengetahuan, membangun kepercayaan, dan memperpanjang manfaat sebuah kegiatan.

Ketika pengetahuan dibagikan dengan ketulusan dan tanggung jawab, kegiatan sederhana pun dapat berubah menjadi pengabdian yang penuh arti.

Melalui semangat kolaborasi, literasi digital, dan peningkatan mutu publikasi, Universitas Muhammadiyah Palembang diharapkan semakin kuat menjadi perguruan tinggi yang aktif, produktif, informatif, dan berdaya saing.

Dari setiap tulisan yang diterbitkan, terdapat kesempatan untuk memperkenalkan kebaikan, menginspirasi masyarakat, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan. Semoga.

*Dosen Pascasarjana/Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang. Penulis lebih dari 385 artikel dan 30 judul buku. Penulis dan editor Majalah INKUIRI LLDikti Wilayah II.

 

 

 

Memperjuangkan Hak Dosen: Dari Sebuah Obrolan Santai Lahir Harapan Baru bagi Karier Akademik Indonesia

Oleh: Tobari*

Tidak semua pembicaraan penting harus berlangsung dalam ruang rapat resmi yang dipenuhi protokol dan agenda tertulis. Ada kalanya, sebuah persoalan besar justru memperoleh perhatian melalui obrolan santai yang berlangsung hangat, terbuka, dan dilandasi kepedulian.

Kesempatan seperti itulah yang saya rasakan ketika berbincang dengan Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., serta Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi  (LLDikti) Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc.

 

Di tengah suasana yang penuh keakraban, pembicaraan mengalir kepada persoalan yang selama ini menjadi kegelisahan banyak dosen, yaitu mengenai kelebihan angka kredit yang tidak lagi diperhitungkan setelah seorang pejabat fungsional naik ke jenjang jabatan yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat umum, angka kredit mungkin terlihat sebagai persoalan administratif semata. Namun, bagi seorang dosen, angka kredit memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Di balik setiap angka terdapat proses pendidikan dan pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, penulisan buku, pembimbingan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan institusi, serta berbagai kegiatan akademik lain yang dijalankan selama bertahun-tahun.

Angka kredit bukanlah sesuatu yang diperoleh secara cuma-cuma. Ia lahir dari kerja nyata, telah melalui proses penilaian, kemudian ditetapkan melalui mekanisme resmi.

Oleh karena itu, ketika kelebihan angka kredit tersebut tidak lagi dapat diperhitungkan untuk mendukung kenaikan pangkat berikutnya setelah dosen berpindah jenjang jabatan, muncul perasaan bahwa sebagian hasil kerja akademik yang telah dilakukan seolah-olah kehilangan nilai dalam sistem pengembangan karier

Persoalan tersebut berkaitan dengan perubahan tata kelola jabatan fungsional melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional.

Salah satu ketentuan yang menjadi perhatian terdapat dalam Pasal 39, termasuk ayat (4), yang mengatur kerangka kenaikan pangkat dan pengelolaan angka kredit pejabat fungsional.

Peraturan ini tercatat masih berstatus berlaku dalam Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kementerian PANRB.

Ketentuan tersebut selanjutnya dijabarkan lebih teknis melalui Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 3 Tahun 2023 tentang Angka Kredit, Kenaikan Pangkat, dan Jenjang Jabatan Fungsional. Peraturan BKN ini juga masih berstatus berlaku.

Pasal 19 ayat (5) Peraturan BKN Nomor 3 Tahun 2023 pada intinya mengatur bahwa apabila seorang pejabat fungsional mempunyai angka kredit melebihi kebutuhan untuk kenaikan pangkat ke jenjang jabatan yang lebih tinggi, kelebihan angka kredit tersebut tidak diperhitungkan untuk kenaikan pangkat berikutnya.

Sementara itu, Pasal 19 ayat (6) memberikan perlakuan berbeda. Apabila kelebihan angka kredit diperoleh untuk kenaikan pangkat yang masih berada dalam satu jenjang jabatan yang sama, kelebihan tersebut dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat berikutnya.

Masalahnya bukanlah bahwa seluruh kelebihan angka kredit dalam semua keadaan dinyatakan tidak berlaku.

Permasalahan yang menjadi perhatian adalah kelebihan angka kredit yang tidak diperhitungkan kembali ketika kenaikan pangkat disertai perpindahan menuju jenjang jabatan fungsional yang lebih tinggi.

Lampiran Peraturan BKN Nomor 3 Tahun 2023 bahkan memberikan contoh bahwa kelebihan angka kredit pada perpindahan ke jenjang jabatan lebih tinggi tidak dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat berikutnya.

Sebaliknya, kelebihan itu masih dapat digunakan apabila pejabat fungsional tetap berada dalam jenjang jabatan yang sama.

Dalam percakapan sehari-hari, kondisi tersebut sering disebut oleh para dosen sebagai kelebihan angka kredit yang “hangus”. Istilah “hangus” memang bukan istilah normatif yang digunakan dalam peraturan.

Namun, kata tersebut menggambarkan kegelisahan ketika angka kredit yang telah diperoleh, dinilai, dan ditetapkan tidak lagi dapat membantu perjalanan karier dosen pada pangkat dan jabatan akademik berikutnya.

Aspirasi untuk meninjau kembali kebijakan ini tidak dimaksudkan agar dosen memperoleh kenaikan pangkat atau jabatan akademik tanpa memenuhi persyaratan.

Dosen tetap harus memenuhi standar kompetensi, kinerja, integritas, masa kerja, persyaratan khusus, serta mutu karya akademik yang ditetapkan.

Tidak ada dosen yang meminta penghargaan tanpa karya. Yang diharapkan adalah agar setiap karya yang telah dihasilkan dengan kejujuran akademik, telah dinilai, dan telah memperoleh penetapan angka kredit tetap mendapatkan penghargaan yang adil dan proporsional.

Kebijakan mengenai jabatan fungsional tentu disusun dengan tujuan memperkuat tata kelola, menyederhanakan proses administrasi, serta menciptakan sistem yang lebih transparan dan akuntabel. Tujuan tersebut patut dihargai dan didukung.

Namun, sebagaimana setiap kebijakan publik, pelaksanaannya juga perlu terbuka terhadap evaluasi apabila ditemukan dampak yang dirasakan secara luas oleh pihak-pihak yang menjalankannya.

Peninjauan kembali bukan berarti merendahkan kewibawaan suatu peraturan. Sebaliknya, evaluasi dapat menjadi bagian dari upaya menyempurnakan kebijakan agar tetap selaras dengan rasa keadilan, kebutuhan organisasi, dan semangat meningkatkan produktivitas aparatur.

Bagi seorang dosen, persoalannya bukan sekadar kehilangan sejumlah angka dalam dokumen. Di balik kelebihan angka kredit tersebut terdapat waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan pengorbanan keluarga.

Ada penelitian yang diselesaikan melalui proses panjang, artikel yang berkali-kali diperbaiki, buku yang ditulis di sela-sela kesibukan mengajar, serta kegiatan pengabdian yang dilaksanakan untuk memberi manfaat kepada masyarakat.

Karena itu, ketika hasil kerja tersebut tidak lagi mempunyai daya guna dalam sistem pengembangan karier berikutnya, dapat muncul pertanyaan: apakah dosen masih perlu berkarya jauh melampaui angka kredit yang dipersyaratkan?

Pertanyaan itu bukan ajakan untuk berhenti berkarya. Dosen sejatinya mengajar, meneliti, menulis, dan mengabdi bukan hanya untuk mengejar angka kredit. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab moral dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun, kita juga perlu mengakui bahwa sistem penghargaan yang adil akan memperkuat motivasi.

Sebaliknya, kebijakan yang dirasakan kurang memberikan pengakuan terhadap hasil kerja yang telah diselesaikan dapat menimbulkan kekecewaan dan secara perlahan melemahkan semangat sebagian dosen untuk terus menghasilkan karya melampaui target.

Persoalan inilah yang menjadi bagian dari obrolan santai dengan Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M.

Pada akhir pertemuan, beliau kembali menegaskan agar seluruh komunikasi berikutnya difokuskan pada tindak lanjut surat resmi yang telah disampaikan kepada Badan Kepegawaian Negara serta penyelesaian administrasi dengan pihak-pihak terkait.

Arahan tersebut memberikan pesan penting bahwa perjuangan terhadap suatu kebijakan harus tetap ditempuh melalui mekanisme resmi, tertib administrasi, dan komunikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Beliau juga menyampaikan kesediaannya untuk membantu menjembatani komunikasi apabila dalam prosesnya memang diperlukan dukungan pada tingkat kebijakan.

Kesediaan tersebut tentu bukan berarti menjanjikan bahwa peraturan akan langsung diubah, sebab kewenangan untuk melakukan kajian dan perubahan berada pada lembaga pemerintah pusat yang terkait.

Namun, perhatian dan kesediaan untuk menjembatani komunikasi merupakan dukungan moral yang sangat berarti.

Setidaknya, aspirasi para dosen memperoleh ruang untuk disampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan dalam menilai, mengevaluasi, dan mempertimbangkan kebijakan tersebut. Sikap ini juga mencerminkan suatu cara penyelesaian yang bijaksana.

Kesediaan tersebut tentu bukan berarti menjanjikan bahwa peraturan akan langsung diubah, sebab kewenangan untuk melakukan kajian dan perubahan berada pada lembaga pemerintah pusat yang terkait.

Namun, perhatian dan kesediaan untuk menjembatani komunikasi merupakan dukungan moral yang sangat berarti.

Setidaknya, aspirasi para dosen memperoleh ruang untuk disampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan dalam menilai, mengevaluasi, dan mempertimbangkan kebijakan tersebut. Sikap ini juga mencerminkan suatu cara penyelesaian yang bijaksana.

Harapan semakin menguat ketika persoalan yang sama dibicarakan dengan Kepala LLDikti Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc.

Beliau memahami bahwa masalah kelebihan angka kredit yang tidak diperhitungkan setelah perpindahan jenjang bukan hanya dialami oleh satu orang dosen.

anyak dosen menghadapi keadaan yang sama dalam perjalanan pengembangan karier akademiknya.

Oleh karena itu, persoalan tersebut tidak lagi semata-mata dapat dipandang sebagai urusan individu, tetapi merupakan aspirasi yang memiliki dampak lebih luas terhadap ekosistem pendidikan tinggi.

Dalam pembicaraan tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah II menyampaikan bahwa beliau akan meneruskan secara resmi kepada Kepala BKN permohonan pertimbangan kebijakan terkait kelebihan angka kredit tersebut.

Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang komunikasi dan evaluasi terhadap dampak penerapan Pasal 19 Peraturan BKN Nomor 3 Tahun 2023, khususnya ketentuan mengenai kelebihan angka kredit pada kenaikan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi.

Komitmen tersebut menghadirkan secercah harapan.

Bukan harapan untuk mendapatkan perlakuan khusus bagi seseorang, melainkan harapan agar persoalan yang dialami banyak dosen dapat dipelajari secara objektif oleh lembaga yang memiliki kewenangan.

Yang dimohonkan bukan penghapusan standar akademik.

Harapannya adalah agar pemerintah dapat mempertimbangkan kemungkinan kebijakan transisi, mekanisme pengakuan, konversi, atau bentuk penghargaan lain terhadap kelebihan angka kredit yang telah diperoleh secara sah.

Mekanisme apa pun yang nantinya dipertimbangkan tentu harus tetap menjaga mutu, akuntabilitas, serta persyaratan substantif untuk kenaikan pangkat dan jabatan akademik.

Penghargaan terhadap karya tetap dapat diberikan tanpa mengurangi kualitas sistem jabatan fungsional.

Di sinilah makna penting pertemuan tersebut. Persoalan yang semula mungkin dirasakan sebagai beban individual mulai memperoleh ruang untuk disampaikan sebagai aspirasi bersama.

Arahan Gubernur Sumatera Selatan memberikan pijakan agar perjuangan tetap berada dalam koridor administrasi, komunikasi resmi, dan kewenangan lembaga.

Sementara itu, komitmen Kepala LLDIKTI Wilayah II untuk menyampaikan permohonan pertimbangan kebijakan kepada Kepala BKN menghadirkan harapan agar persoalan tersebut dapat dibahas pada tingkat yang tepat.

Harapan itu tentu belum berarti bahwa kebijakan akan segera berubah. Proses kajian regulasi memerlukan data, pertimbangan hukum, analisis dampak, serta koordinasi antarlembaga.

Namun, setiap perubahan yang membawa kebaikan hampir selalu bermula dari keberanian menyampaikan kenyataan secara santun dan dari kesediaan para pemimpin untuk mendengarkan.

Perjuangan ini bukanlah penolakan terhadap pemerintah ataupun perlawanan terhadap regulasi. Ini merupakan permohonan evaluasi terhadap dampak suatu kebijakan berdasarkan pengalaman nyata para dosen di lapangan.

Kebijakan yang baik bukan hanya tertib secara administratif, tetapi juga mampu menjaga rasa keadilan dan semangat orang-orang yang menjalankannya.

Ketika suatu ketentuan berpotensi melemahkan motivasi dosen untuk menghasilkan karya melebihi target, dampak tersebut patut disampaikan sebagai bahan pertimbangan.

Perguruan tinggi memerlukan dosen-dosen yang terus mengajar dengan sepenuh hati, menghasilkan penelitian bermutu, menulis buku, memublikasikan artikel ilmiah, menciptakan inovasi, serta menghadirkan pengabdian yang menyelesaikan persoalan masyarakat.

Semangat tersebut perlu dirawat melalui sistem pengembangan karier yang memberikan kepastian dan penghargaan secara proporsional.

Pada akhirnya, yang diperjuangkan bukan sekadar sisa angka kredit. Yang diperjuangkan adalah pengakuan terhadap dedikasi, integritas, dan karya akademik yang telah dihasilkan.

Suatu bangsa tidak akan kehilangan masa depannya hanya karena kekurangan gedung atau teknologi. Bangsa akan menghadapi persoalan besar apabila semangat para pendidiknya mulai melemah.

Oleh karena itu, setiap kebijakan yang mampu menjaga semangat dosen untuk terus berkarya sesungguhnya bukan hanya investasi bagi profesi dosen, melainkan investasi bagi masa depan Indonesia.

Semoga ikhtiar yang dilakukan melalui surat resmi, penyelesaian administrasi, dialog yang santun, serta dukungan para pemangku kepentingan dapat membuka jalan bagi lahirnya kebijakan yang semakin adil dan berkemajuan.

Sebab, memperjuangkan hak dosen bukanlah semata-mata memperjuangkan kepentingan suatu profesi.

Perjuangan ini adalah bagian dari upaya menjaga semangat pengabdian, meningkatkan mutu pendidikan tinggi, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik.

UM Palembang Perkuat SINTA, Bangun Reputasi Akademik Global

 

Oleh: Tobari*

Kemajuan sebuah perguruan tinggi pada era transformasi pendidikan tinggi tidak lagi hanya diukur dari banyaknya mahasiswa, megahnya gedung perkuliahan, atau kelengkapan sarana prasarana yang dimiliki.

Lebih dari itu, reputasi akademik kini menjadi tolak ukur utama yang menunjukkan kualitas suatu perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Reputasi tersebut dibangun melalui budaya riset yang kuat, produktivitas publikasi ilmiah yang berkelanjutan, pengelolaan jurnal yang berkualitas, serta kemampuan sivitas akademika menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kesadaran inilah yang terus diperkuat Universitas Muhammadiyah Palembang sebagai bagian dari komitmennya mewujudkan perguruan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Penataan SINTA dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palembang yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jumat (10/7/2026).

 

Kegiatan yang dipusatkan di Aula Gedung KH. Faqih Usman Lantai 7 Universitas Muhammadiyah Palembang ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat tata kelola publikasi ilmiah sekaligus meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai optimalisasi Science and Technology Index (SINTA) sebagai instrumen penting dalam pengembangan reputasi akademik perguruan tinggi.

Workshop menghadirkan narasumber dari Tim Pengelola Platform SAINTEK Kemendiktisaintek, yaitu Rizky Prasetya dan M. Rusmal Firmansyah, yang memberikan pendampingan teknis mengenai pengelolaan profil SINTA, integrasi berbagai basis data publikasi ilmiah, serta strategi peningkatan kualitas jurnal ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.

Kehadiran kedua narasumber tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para peserta untuk memperoleh informasi terkini mengenai kebijakan nasional sekaligus praktik terbaik dalam pengelolaan data akademik yang terintegrasi.

Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan universitas, para dekan, ketua program studi, dosen, pengelola jurnal ilmiah, serta sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Palembang yang memiliki perhatian besar terhadap peningkatan mutu penelitian dan publikasi ilmiah.

Terlihat hadir Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M.; Wakil Rektor II UM  Palembang Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M.; Wakil Rektor III UM Palembang, Dr. Eko Ariyanto, S.T., M.Chem.; Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Prof. Dr. Ir. Gusmiatun, M.P.; Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UM Palembang, Prof. Dr. Indawan Syahri, M.Pd.;  Wakil Dekan I Fakultas Pertanian UM Palembang, Dr. Ade Vera Yani, S.P., M.Si.;  beserta jajaran pimpinan akademik lainnya.

Kehadiran para pimpinan universitas menunjukkan bahwa penguatan budaya publikasi ilmiah telah menjadi komitmen bersama dalam mendukung peningkatan kualitas Caturdharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Rektor UM Palembang, Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa SINTA saat ini bukan sekadar sebuah aplikasi atau pangkalan data akademik, melainkan telah berkembang menjadi instrumen strategis yang mampu menggambarkan produktivitas dan kualitas kinerja akademik dosen maupun institusi perguruan tinggi secara komprehensif.

Berbagai luaran tridharma, mulai dari publikasi ilmiah, sitasi, buku, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat, terdokumentasi secara sistematis melalui platform tersebut sehingga menjadi salah satu rujukan penting dalam berbagai proses evaluasi dan pemeringkatan perguruan tinggi.

Menurut Rektor, pengelolaan profil SINTA secara optimal merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Di tengah meningkatnya persaingan pendidikan tinggi, setiap dosen dituntut untuk tidak hanya menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, tetapi juga memastikan seluruh capaian akademiknya terdokumentasi dengan baik sehingga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan reputasi institusi.

“Pembaruan dan optimalisasi profil SINTA bukan hanya penting bagi rekam jejak individu dosen, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap pemeringkatan institusi dan akreditasi universitas,” tegas Prof. Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M.

Ia menjelaskan bahwa tantangan perguruan tinggi dewasa ini semakin kompleks.

Persaingan global menuntut setiap institusi pendidikan tinggi untuk terus meningkatkan produktivitas riset, memperluas jejaring kolaborasi, memperkuat kualitas publikasi ilmiah, serta menghadirkan inovasi yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Oleh sebab itu, pemanfaatan platform akademik nasional maupun internasional harus menjadi budaya baru di lingkungan perguruan tinggi.

Bagi Universitas Muhammadiyah Palembang, workshop ini bukan sekadar agenda peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar universitas dalam membangun ekosistem akademik yang semakin produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir semangat baru bagi seluruh dosen dan pengelola jurnal untuk terus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, memperkuat tata kelola jurnal, serta memperluas kontribusi penelitian bagi kemajuan ilmu pengetahuan, pembangunan bangsa, dan kesejahteraan masyarakat.

Memasuki sesi inti workshop, para peserta memperoleh pendampingan teknis secara langsung dari Tim Pengelola Platform SAINTEK Kemendiktisaintek.

Melalui pemaparan yang sistematis dan interaktif, narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan profil Science and Technology Index (SINTA) bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan bagian penting dari upaya membangun rekam jejak akademik dosen dan meningkatkan reputasi perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Narasumber dari Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Rizky Prasetya, menjelaskan bahwa kemajuan pendidikan tinggi Indonesia hanya dapat dicapai apabila seluruh perguruan tinggi memiliki kesadaran yang sama dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah serta mengoptimalkan pemanfaatan SINTA.

Menurutnya, penguatan SINTA tidak boleh hanya dipahami oleh segelintir perguruan tinggi atau beberapa pengelola jurnal saja, melainkan harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh sivitas akademika.

“Indonesia akan semakin baik apabila kita bersama-sama meningkatkan kualitas. Salah satunya melalui peningkatan profil dan skor SINTA. Harapannya, bukan hanya perguruan tinggi tertentu yang memahami bagaimana mengoptimalkan SINTA, tetapi seluruh perguruan tinggi memiliki pemahaman yang sama sehingga dapat berkembang secara bersama,” ungkap Rizky.

Ia menilai kegiatan yang diselenggarakan UM Palembang merupakan langkah yang tepat dalam membangun budaya akademik yang semakin kuat.

Melalui workshop seperti ini, dosen dan pengelola jurnal tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai kebijakan terbaru, tetapi juga mendapatkan solusi atas berbagai kendala teknis yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan profil akademik.

Lebih lanjut, Rizky menjelaskan bahwa SINTA merupakan salah satu instrumen strategis yang digunakan untuk memotret produktivitas akademik perguruan tinggi di Indonesia.

Berbagai luaran tridarma, seperti artikel ilmiah, buku, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sitasi, hingga berbagai capaian akademik lainnya terdokumentasi dalam satu sistem yang terintegrasi.

Data tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam pemetaan kinerja dosen, pengembangan klaster perguruan tinggi, serta mendukung berbagai proses evaluasi mutu pendidikan tinggi.

Menurutnya, masih banyak karya ilmiah dosen yang telah diterbitkan pada jurnal bereputasi maupun prosiding ilmiah, namun belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam profil SINTA.

Akibatnya, sejumlah capaian akademik yang sebenarnya telah dihasilkan belum tercermin dalam rekam jejak akademik dosen maupun institusinya.

Oleh karena itu, proses sinkronisasi dan validasi data menjadi langkah yang sangat penting untuk memastikan seluruh luaran akademik tercatat secara akurat.

Tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, Rizky Prasetya bersama tim juga memberikan pendampingan praktik kepada seluruh peserta.

Setiap dosen diberi kesempatan untuk membuka profil SINTA masing-masing, memeriksa kesesuaian data, mengidentifikasi publikasi yang belum terintegrasi, hingga melakukan proses sinkronisasi secara langsung dengan pendampingan narasumber.

Suasana workshop pun berlangsung dinamis. Para peserta secara aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan langsung mempraktikkan langkah-langkah integrasi data menggunakan akun akademik masing-masing.

Pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif karena setiap permasalahan dapat diselesaikan saat itu juga bersama narasumber.

Salah seorang peserta workshop, Dr. Tobari, S.E., M.Si., yang juga sebagai Ketua Prodi S3 Manajemen UM Palembang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi secara langsung dengan Rizky Prasetya mengenai sejumlah karya ilmiah yang telah dipublikasikan, namun belum muncul pada profil SINTA.

Melalu pendampingan tersebut, dilakukan proses penelusuran, sinkronisasi, dan integrasi terhadap berbagai publikasi yang sebelumnya belum tercatat dalam sistem.

Hasil pendampingan tersebut memberikan capaian yang langsung bisa dilihat perubahannya. Setelah proses integrasi berhasil dilakukan, skor SINTA Tobari mengalami peningkatan sebanyak 137 poin dibandingkan skor sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan profil akademik yang baik memiliki dampak nyata terhadap rekam jejak akademik dosen, sekaligus menunjukkan pentingnya memastikan setiap karya ilmiah yang telah dipublikasikan tercatat secara benar dalam sistem nasional.

Bagi Tobari, pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa menghasilkan karya ilmiah saja belum cukup.

Setiap publikasi, buku, maupun luaran penelitian perlu dipastikan terintegrasi dengan berbagai platform akademik sehingga dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pengembangan karier akademik dosen maupun peningkatan reputasi institusi.

Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi peserta lainnya untuk melakukan pembaruan data akademik secara berkala.

 

Pendampingan yang diberikan Tim Pengelola Platform SAINTEK Kemendiktisaintek membuktikan bahwa berbagai kendala teknis dalam pengelolaan profil SINTA dapat diselesaikan apabila dilakukan melalui bimbingan yang tepat dan didukung oleh komitmen dosen untuk terus memperbarui data akademiknya.

Melalui workshop ini, Universitas Muhammadiyah Palembang tidak hanya berhasil menghadirkan ruang belajar bersama, tetapi juga memperkuat budaya publikasi ilmiah yang berkualitas. Sinergi antara perguruan tinggi dan Kemendiktisaintek diharapkan terus berlanjut sehingga semakin banyak dosen yang produktif menghasilkan karya ilmiah, memperkuat jurnal ilmiah, meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta membawa Universitas Muhammadiyah Palembang semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Lebih dari sekadar peningkatan angka pada profil SINTA, kegiatan ini menegaskan bahwa setiap publikasi yang terdokumentasi dengan baik merupakan jejak kontribusi seorang akademisi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketika budaya riset, publikasi, dan integrasi data akademik tumbuh secara konsisten, maka yang bertambah bukan hanya skor SINTA, tetapi juga kepercayaan masyarakat, reputasi institusi, serta kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun Indonesia yang lebih maju. Semoga.

Pascasarjana UM Palembang dan Kakanwil Ditjenpas Sumsel Bersinergi Membangun SDM Beritegritas

 

Oleh: Tobari*

 

Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusianya. Pendidikan menjadi jalan utama membangun manusia yang berilmu, berintegritas, dan berakhlak mulia.

Atas dasar pemikiran tersebut, hari Kamis 02/07/2026 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang (PPs UM Palembang) melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Sumatera Selatan di Palembang sebagai langkah awal memperkuat sinergi dalam pengembangan sumber daya manusia.

Rombongan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang dipimpin langsung oleh Direktur Pascasarjana, Dr. Ir. Mukhtaruddin Muchsiri, M.P., didampingi Sekretaris Pascasarjana Dr. Sri Wardhani, M.Si. 

Turut hadir Dr. Mulyadi Tanzili, S.H., M.H., selaku Ketua Program Studi Magister Hukum; Dr. Eni Cahyani, S.E., M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Magister Manajemen; Ir. Anindita Rahmalia Putri, S.T., M.T., selaku Sekretaris Program Studi Magister Teknik Kimia; Dr. Sayid Habiburrahman, M.Pd.I., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam; Dr. Ir. Erni Hawayanti, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Pertanian; Dr. Tobari, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Doktor Manajemen; serta Dr. Idmar Wijaya, M.Hum., sebagai Ketua Lembaga Dakwah Muhammadiyah (LDM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan.

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, didampingi Sartowali, A.Md.I.P., S.H., Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum, serta Joni Ihsan, S.H., M.H., Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya.

Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana UM Palembang menjelaskan bahwa tujuan utama audiensi bukan sekadar mempererat silaturahmi, tetapi juga membangun hubungan kerja sama yang berkelanjutan antara Universitas Muhammadiyah Palembang, khususnya Program Pascasarjana, dengan Kantor Wilayah Ditjenpas Sumatera Selatan beserta seluruh satuan pemasyarakatan di wilayah Sumatera Selatan.

Menurut Dr. Mukhtaruddin Muchsiri, ruang kerja sama tersebut sangat luas dan mencakup pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, ruang kolaborasi tersebut juga mencakup penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Implementasinya dapat diwujudkan melalui kegiatan dakwah, pembinaan mental dan spiritual, serta pendidikan karakter bagi aparatur maupun warga binaan pemasyarakatan sebagai bagian dari ikhtiar membangun manusia yang berilmu, berakhlak mulia, dan berintegritas.

Melalui kolaborasi tersebut diharapkan lahir berbagai program yang mampu meningkatkan kualitas aparatur sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pada bidang pendidikan, Pascasarjana UMP membuka kesempatan bagi seluruh aparatur di lingkungan pemasyarakatan untuk meningkatkan jenjang pendidikannya.

Pegawai yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dapat melanjutkan studi pada program magister, sedangkan aparatur yang telah bergelar magister memiliki kesempatan melanjutkan ke Program Studi Doktor Manajemen.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pascasarjana juga memperkenalkan Program Studi Doktor Manajemen Universitas Muhammadiyah Palembang yang baru memperoleh izin operasional pada 2 Juni 2026.

Program ini menjadi Program Studi Doktor Manajemen pertama di kawasan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), sehingga memberikan kesempatan yang lebih luas bagi aparatur pemerintah untuk menempuh pendidikan doktor tanpa harus meninggalkan daerah.

Selain pendidikan formal, kerja sama juga diarahkan pada penelitian bersama yang dapat menghasilkan berbagai rekomendasi ilmiah dalam pengembangan organisasi pemasyarakatan, peningkatan kualitas pelayanan publik, tata kelola kelembagaan, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Yang tidak kalah penting adalah pengabdian kepada masyarakat. Pascasarjana UMP menawarkan berbagai bentuk pembinaan, baik melalui penyuluhan, pelatihan, pengembangan keterampilan, maupun pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan persiapan mereka kembali ke tengah masyarakat.

Menanggapi berbagai gagasan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Selatan, Yulius Sahruzah, Bc.IP., S.H., M.H., menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang dalam membangun kemitraan dengan institusi pemasyarakatan.

Beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu kunci dalam mewujudkan pemasyarakatan yang profesional, adaptif, dan berintegritas. Oleh karena itu, kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan kompetensi aparatur sangat diharapkan dapat segera direalisasikan.

Lebih jauh lagi,  Yulius Sahruzah berharap sinergi tersebut tidak berhenti pada peningkatan kualitas aparatur semata, tetapi juga menyentuh aspek pembinaan warga binaan pemasyarakatan.

Menurutnya, banyak warga binaan yang membutuhkan pendampingan, pencerahan, dan pembinaan mental serta spiritual agar mampu memperbaiki perilaku, membangun optimisme, dan kembali menjadi pribadi yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat.

Harapan tersebut mendapat sambutan positif karena dalam audiensi turut hadir Ketua Lembaga Dakwah Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan, Dr. Idmar Wijaya, M.Hum.

Kehadiran beliau membuka peluang kolaborasi dalam pembinaan keagamaan dan penguatan nilai-nilai moral bagi warga binaan melalui pendekatan dakwah yang humanis, menyejukkan, dan mencerahkan.

Bagi Muhammadiyah, dakwah tidak hanya dilaksanakan di mimbar atau ruang-ruang pendidikan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan. Warga binaan merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan, pendidikan, dan kesempatan memperbaiki diri.

Oleh sebab itu, kolaborasi antara Kanwil Ditjenpas Sumatera Selatan dan Muhammadiyah melalui Pascasarjana UM Palembang diharapkan mampu menjadi jembatan lahirnya berbagai program pembinaan yang berkelanjutan.

 

Audiensi ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan mencetak lulusan, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial melalui ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebaliknya, institusi pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan hukum, tetapi juga memiliki komitmen membangun manusia seutuhnya agar mampu kembali menjalankan kehidupan secara produktif, bermartabat, dan diterima oleh masyarakat.

Silaturahmi yang berlangsung sederhana tersebut menyimpan harapan besar. Semoga berbagai gagasan yang telah dibangun dapat segera diwujudkan dalam bentuk nota kesepahaman dan program kerja nyata sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh aparatur pemasyarakatan, warga binaan, perguruan tinggi, serta masyarakat luas.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari banyaknya gedung yang berdiri, melainkan dari semakin banyaknya manusia yang tercerahkan, berilmu, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi sesama.

Di sinilah pendidikan, dakwah, dan pengabdian bertemu dalam satu tujuan mulia: membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul menuju masa depan yang lebih baik. Semoga.